Survei BI: Musim Hujan Menekan Penjualan Eceran

Penjualan eceran juga dipengaruhi kebijakan PPKM Jawa-Bali.
Agatha Olivia Victoria
9 Februari 2021, 15:32
survei BI, penjualan eceran dampak cuaca
ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/wsj.
Warga membeli gula pasir saat operasi pasar gula pasir yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah di Pasar Bitingan, Kudus, Jawa Tengah, Senin (18/5/2020).

Survei Bank Indonesia memperkirakan penjualan eceran pada Maret 2021 akan menurun akibat faktor cuaca yang kurang mendukung. Survei yang dikerjakan pada Desember 2020 ini menghasilkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Maret 2021 yang sebesar 152,5, lebih rendah dibandingkan Februari 2021 sebesar 153,4.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan dari segi harga, tekanan inflasi pada Maret 2021 relatif stabil. "Indeks Ekspektasi Harga Umum Maret 2021 sebesar 149,7, relatif stabil dibandingkan 150,4 pada bulan sebelumnya, sejalan dengan pasokan yang terjaga," kata Erwin dalam keterangan resminya, Jakarta, Selasa (9/2).

Hasil survei ini juga memperkirakan penjualan eceran pada Juni 2021 relatif stabil, dengan IEP sebesar 165,8 dari 165,1 pada bulan sebelumnya. Hal tersebut didukung permintaan yang relatif terjaga.

Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juni 2021 adalah sebesar 164,8, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 161,7. Responden menyatakan hal tersebut antara lain dipengaruhi ketersediaan barang atau jasa yang berkurang dan kemungkinan gangguan distribusi.

Adapun kinerja penjualan eceran pada Januari 2021 secara bulanan diperkirakan menurun, namun secara tahunan membaik. Indeks Penjualan Riil (IPR) bulan lalu diprediksikan sebesar 186,7 atau terkontraksi 1,8% secara bulanan, setelah sebelumnya tumbuh 4,8% secara bulanan pada Desember 2020.

Penurunan tersebut diperkirakan sejalan dengan faktor musiman menurunnya permintaan masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan dan Nasional dan libur akhir tahun di tengah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Jawa dan Bali, serta faktor cuaca dan bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah.

Secara bulanan, kinerja penjualan eceran untuk seluruh kelompok mengalami penurunan, terdalam pada kelompok bahan bakar kendaraan bermotor sebesar minus 5,85%, diikuti kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar kontraksi 2,1% pada jenis makanan jadi, bahan makanan dan tembakau, serta kelompok barang budaya dan rekreasi minus 6,2%.

Secara tahunan, penjualan eceran Januari 2021 diperkirakan membaik meski masih berada pada fase kontraksi sebesar 14,2%, dibandingkan negatif 19,2% pada bulan sebelumnya. Perbaikan penjualan tahunan diindikasikan terjadi pada sebagian besar kelompok, terutama subkelompok sandang, kelompok makanan, minuman dan tembakau, serta kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya.

Pada Januari 2021, penjualan eceran tahunan secara nasional diramal membaik di sejumlah kota. Perbaikan terjadi di Surabaya, Makassar, dan Semarang. Sementara itu, kota Manado diperkirakan tumbuh melambat.

Survei turut mencatat, kinerja penjualan eceran membaik terbatas pada Desember 2020. Secara bulanan, penjualan eceran meningkat pada sebagian besar kelompok komoditas didorong oleh kenaikan permintaan dalam rangka hari raya Natal dan Tahun Baru. Hal ini tercermin dari IPR Desember 2020 yang tumbuh 4,8% secara bulanan, membaik dari minus 1,2% pada November 2020.

Peningkatan penjualan eceran tertinggi terjadi pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya dan peralatan informasi dan komunikasi. Kenaikan permintaan tidak setinggi periode yang sama tahun sebelumnya sehingga secara tahunan, kinerja penjualan eceran periode Desember 2020 mengalami kontraksi dengan pertumbuhan IPR minus 19,2%, lebih dalam dari kontraksi 16,3% pada bulan sebelumnya, terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau serta sub kelompok sandang.

Ekonom Senior Center Of Reform on Economics Yusuf Rendy Manilet menuturkan bahwa perkiraan penurunan penjualan eceran pada Maret 2021 semakin menguatkan potensi kembali terkontraksinya pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021. "Apalagi jika dilihat dari penanganan Covid-19 yang diakui belum optimal," kata Yusuf kepada Katadata.co.id, Selasa (9/2).

Menurunnya ekspektasi penjualan eceran pada Maret 2021 bisa menjadi semacam peringatan awal bagi pemerintah dalam upayanya mendorong proses pemulihan. Dengan demikian, pemerintah harus melakukan evaluasi dalam kebijakan penanggulan kesehatan sembari memperhatikan kualitas bantuan ke masyarakat.

Menteri Koordinator Airlangga Hartarto sebelumnya masih menargetkan  pertumbuhan ekonomi 4,5% hingga 5,5% tercapai. Ia memperkirakan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini tumbuh 1,6% hingga 2,1%.  Pemerintah mendorong pertumbuhan dengan menggenjot konsumsi rumah tangga pada kuartal pertama tahun ini 1,3% hingga 1,8%. "Konsumsi pemerintah dan investasi dapat tumbuh 3% hingga 4%, serta mendorong ekspor dan impor," ujar Airlangga dalam konferensi pers, Jumat (5/2).

Sejumlah data perekonomian, menurut Airlangga, menunjukkan perbaikan. Purchasing Managers Index Januari naik menjadi 52,2%, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.  Indeks Kepercayaan Konsumen pada Desember juga sudah berada di level 96 atau mendekati optimistis, sedangkan neraca perdagangan tahun lalu positif US$ 21,74 miliar. "Kami harapkan kondisi yang membaik ini berlanjut di awal tahun ini," katanya.

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait