Perjuangan Melawan Pandemi Covid-19 dari Garis Depan

Dengan berbagai keterbatasan, tenaga kesehatan bertaruh nyawa untuk menangani pandemi Covid-19. Pemerintah daerah sibuk mendisiplinkan masyarakat. Mereka berada di garis depan perang melawan pandemi.
Image title
17 Agustus 2020, 10:10
Ilustrasi. Para tenga kesehatan dan pemerintah daerah berpacu dengan waktu dan risiko demi memerdekakan Indonesia dari Covid-19 di zona rawan.
Ilustrator: Joshua Siringoringo | Katadata
Para tenga kesehatan dan pemerintah daerah berpacu dengan waktu dan risiko demi memerdekakan Indonesia dari Covid-19 di zona rawan.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Upaya Pemerintah Daerah

Tantangan juga dihadapi pemerintah daerah di zona merah dalam menghadapi pandemi virus corona. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan, kendala utama penanganan kesehatan di wilayahnya adalah kepatuhan masyarakat terhadap protokol Covid-19, fasilitas kesehatan dan melakukan tes massal.

Kendala kepatuhan masyarakat, kata Khofifah, tercermin dari hasil survei alumni FKM Universitas Airlangga periode 19-23 Mei 2020 atau selama masa PSBB tahap 2 Jawa Timur. Bahwa 41-84% masyarakat tak menggunakan masker dan tak menerapkan physical distancing di pelbagai tempat aktivitas publik.

Guna mengatasi kendala ini, Khofifah merevisi Perda Nomor 1 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat. Revisi memasukkan aturan pembatasan kegiatan masyarakat dan protokol kesehatan lain beserta konsekuensi pelanggarannya. Aturan baru ini berlaku sejak Juli lalu.

“Jadi ini disahkan sebelum Inpres tentang sanksi pelanggaran protokol kesehatan,” kata Khofifah kepada Katadata.co.id, Selasa (11/8).

Kebijakan lain, adalah menggalakkan penggunaan masker. Pemprov Jawa Timur bersama pemerintah pusat dan lembaga non-pemerintah mendonasikan 26 juta masker kepada masyarakat pada 7 Agustus lalu. Donasi diberikan berdasarkan kebutuhan jumlah anggota keluarga masyarakat.

Selain itu, Khofifah menerapkan program Kampung Tangguh di beberapa kabupaten/kota, seperti di Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik, dan Kota Surabaya. Ketiganya adalah wilayah dengan penularan virus corona yang massif di Jawa Timur. Program ini bertujuan mengintervensi pelaksanaan penerapan protokol kesehatan dengan memanfaatkan keterlibatan masyarakat atau community building.

Dalam menyelesaikan kendala faskes, Khofifah pada 16 Maret memastikan kesiapan Institute Tropical Disease (ITD) milik Universitas Airlangga (UNAIR) yang ditunjuk Kemenkes menjadi laboratorium tes PCR.

Pemprov Jatim juga memastikan kesiapan RS Infeksi UNAIR dan meminta kepada RS lain di bawah koordinasi Pemprov Jatim menyiapkan ruang isoalsi khusus. “Istilah saya sedia payung sebelum hujan,” kata Khofifah.

Pada bulan yang sama, Khofifah juga mengajukan izin kepada Menkes Terawan untuk menyulap satu gedung di RS Menur Surabaya milik Kemenkes menjadi ruang isolasi. Ia pun membuat RS Lapangan Indrapura yang resmi beroperasi pada 25 Mei dan menjadi penyangga RS rujukan.  

Data Pemprov Jatim yang disampaikan Khofifah menyatakan, per 11 Agustus RS Lapangan Indrapura telah merawat 1252 pasien Covid-19. Rinciannya 1136 orang telah dinyatakan sembuh, 107 orang masih dalam perawatan, dan nol orang meninggal.

Edsus Covid-19
Edsus Covid-19 (ADI MAULANA IBRAHIM|KATADATA)
 

Khofifah menyatakan, kendala utama tes massal adalah mahalnya reagen PCR. Ia pun menyiasatinya dengan memilah orang yang perlu dites PCR dan menggalakkan tes cepat. Data Dinkes Jatim yang disampaikannya per 11 Agustus pukul 17.00 WIB, Jatim menjadi provinsi terbanyak melakukan tes cepat di Indonesia dengan 834.418 orang telah dites.

“1 dari 48 penduduk Jatim telah dites cepat Covid-19,” kata Khofifah.

Mereka yang terbukti reaktif dalam tes cepat beserta kontak terdekatnya kemudian mendapat fasilitas tes PCR setelah sebelumnya diisolasi di gedung BPSDM dan dua hotel. Total per 11 Agustus 2020 pukul 17.00 WIB, 160.830 orang dari sekitar 40 juta penduduk Jatim telah dites PCR.

Saat ini, kata Khofifah, Jatim memiliki 53 mesin PCR dan 23 mesin tes cepat. Ia menargetkan ke depannya menargetkan tes harian kepada 4.000-5.349 orang. Target ini wajar mengingat tingkat tes Jatim masih di bawah standar WHO, yakni 1 per 1.000 penduduk per minggu.

Data WHO selama tiga minggu ke belakang menunjukkan hanya DKI Jakarta yang telah memenuhi standar tersebut. Pada periode 20-26 Juli rasionya 4,3 per 1.000 penduduk, lalu periode 27 Juli-2 Agustus rasionya 3,5 per 1.000 penduduk, dan periode 3-9 Agustus rasionya 4,3 per 1.000 penduduk.

Hasil dari upaya ini, kata Khofifah, adalah rasio kesembuhan pasien corona di data Dinas Kesehatan Jawa Timur per 11 Agustus mencapai 72,46%. Lebih tinggi dari rasio sembuh nasional saat itu yang sebesar 65%. Ia pun menyatakan rasio kesembuhan di 38 kabupaten/kota telah lebih dari 50%.

Jawa Timur pun dalam seminggu ke belakang tak lagi menempati posisi teratas total kasus berdasarkan provinsi di tingkat nasional. Tempat itu kembali diduduki DKI Jakarta dengan total 28.299 kasus.   

“PR kami saat ini adalah menurunkan rasio kematian yang masih 7,39%,” katanya.

Langkah Khofifah menurunkan angka kematian adalah dengan melakukan pendataan intensif terhadap penyebab selain corona. Data yang berhasil dikumpulkannya per 11 Agustus menyatakan, 27,6% pasien Covid-19 yang meninggal memiliki penyakit bawaan diabetes. Disusul hipertensi (23%) dan jantung (19%).

Kendala serupa juga dialami Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Menurutnya, pelanggaran protokol kesehatan paling banyak dilakukan oleh orang luar Surabaya yang berkunjung. Caranya menyelesaikan hal ini adalah dengan memberi sanksi sosial, seperti merawat orang gila dan membersihkan rumah susun.

“Sekarang kalau lihat kepatuhannya sudah sekitar 90% lah,” kata Risma kepada Katadata.co.id, Kamis (13/8).

Data yang disampaikan Risma tersebut meningkat jauh dibandingkan hasil survei alumni FKM Universitas Airlangga terkait pelaksanaan protokol kesehatan di era kenormalan baru di Surabaya periode 24-26 Juni 2020. Bahwa, 15,68%-50,64% masyarakat masih tak menggunakan masker dan tak menerapkan physical distancing di pelbagai fasilitas publik.

Seperti yang dilakukan Pemprov Jawa Timur, Risma mengatasi keterbatasan tes PCR dengan menggalakkan rapid test. Lalu, memilah orang yang reaktif untuk ditindaklanjuti dengan tes PCR. Mereka yang positif dikarantina di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya.

“Tingkat penyembuhan di asrama haji 100% dan cepat sekali. Paling lama 3 hari dan mereka kami pulangkan harus karantina mandiri,” kata Risma.

Di samping itu, ia menyatakan membuat aplikasi untuk mengontrol pergerakan pasien terkonfirmasi Covid-19. Sehingga, mata rantai penularannya bisa diputus dan tak menambah jumlah kasus baru. Hal ini lah yang membuat Surabaya tak lagi menjadi zona hitam seperti ramai diberitakan sebelumnya.

“Cek saja di peta website Kemenkes, kami sudah hijau,” kata Risma.  

Reporter: Muhammad Ahsan Ridhoi
Editor: Yura Syahrul

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait