Rencana Bisnis Direvisi, Penerimaan Migas Bisa Turun
KATADATA ? Penerimaan negara di sektor minyak dan gas bumi (migas) diperkirakan akan turun seiring adanya revisi rencana bisnis yang dilakukan para kontraktor migas.
Direktur Hulu Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Naryanto Wagimin memastikan revisi rencana bisnis tersebut akan mempengaruhi produksi migas. Perubahan angka produksi, pada akhirnya akan berpengaruh pada penerimaan sektor migas.
"Kemungkinan turun jika banyak pekerjaan yang ditunda. Total produksi turun, otomatis peneriman turun jika harga minyak rendah," kata dia kepada Katadata, Senin (6/4).
Rendahnya harga minyak dunia di kisaran US$ 50- US$ 55 per barel, membuat perusahaan migas berpikir ulang untuk melakukan kegiatan operasinya. Banyak kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang mengurangi produksi dan menunda rencana ekspansinya pada tahun ini.
(Baca: 10 Wilayah Kerja Migas Tidak Laku Dilelang)
Dampaknya, realisasi lifting minyak sejak Januari hingga pertengahan Maret lalu masih jauh dari target. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat realisasinya hanya 764.000 barel per hari (bph).
Angka tersebut masih di bawah target di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 yakni 825.000 bph. Sedangkan lifting gas sebesar 1,22 juta barel setara minyak per hari.
Adapun APBN-P 2015 mematok penerimaan negara dari sektor migas sebesar Rp 118,9 triliun.
(Baca: Perusahaan Migas Asing Akan Hengkang dari Indonesia)
Naryanto menyatakan belum dapat menyebut berapa besar pengaruh adanya revisi rencana bisnis industri migas ini terhadap target lifting ataupun penerimaan negara. Kementerian juga sedang mengkaji insentif yang bisa diberikan kepada KKKS, penurunan produksi migas tidak terlalu besar.
"Insentif apa, itu tergantung Menteri ESDM atau pelaksana tugas Direktur Jenderal Migas," ujar dia.
(Baca: 23 Kontraktor Migas Terjerat Sengketa Pajak Rp 3,2 Triliun)
Deputi pengendalian Perencanaan SKK Migas Aussie B Gautama juga belum bisa memastikan seberapa besar dampak revisi rencana bisnis terhadap penurunan produksi dan penerimaan negara dari sektor migas. Ini baru bisa terlihat pada bulan depan, setelah KKKS mengirimkan revisi rencana bisnis dan anggarannya kepada SKK Migas.
"Kami akan tahu setelah sesi work plan and budget revisi ini selesai. Sekitar minggu kedua Mei," ujar dia.
(Baca: Satu Dekade, Realisasi Lifting Minyak Selalu Meleset)
