Semen Indonesia Selesaikan Dua Pabrik untuk Ekspansi ke Bangladesh dan Australia
KATADATA - Setahun ke depan, PT. Semen Indonesia berencana merampungkan pembangunan dua pabrik. Kedua proyek tersebut berlokasi di Indarung, Sumatera Barat, dan Rembang, Jawa Tengah. Perusahaan berinvestasi Rp 7,6 triliun untuk menggarapnya, dengan target selesai pada akhir tahun depan. "Capex tersebut naik dari Rp 5,9 triliun tahun ini," kata Direktur Utama Semen Indonesia Suparni saat acara Investor Day di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu, 12 November 2015.
Bila kedua pabrik itu mulai beroperasi, induk empat perusahaan semen ini akan menyebarkan produknya ke luar negeri. Dengan perkiraan mendapat tambahan produksi semen 6 juta ton, pasar ekspor yang dilirik yaitu Bangladesh dan Australia.
Semen Indonesia memang belum memiliki kesepakatan ekspor dengan kedua negara tersebut. Karena itu, secepat-cepatnya perluasan ekspor baru dapat terlaksana pada 2017 mendatang. Jika ada permintaan dari luar negeri, Semen Indonesia akan menyisihkan dari produksi Thang Long Cement, perusahaan semen Vietnam yang telah diakuisisi. Hingga saat ini, perseroan memiliki kapasitas produksi 32,3 juta ton. Sebagian digunakan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri, dan sisanya diekspor.
Pada kuartal ketiga kemarin, volume ekspor Semen Indonesia meningkat 116 persen dari periode yang sama tahun lalu. Ekspor semen pada triwulan ini mencapai 391.465 ton atau naik dari posisi kuartal ketiga 2014 yang baru mencapai 180.734 ton. (Baca juga: Proyek Infrastruktur Marak, Penjualan Semen Melonjak 12 Persen).
Namun, secara total, penjualan perseroan menurun. Hingga kuartal ketiga kemarin, penjualan Semen Indonesia hanya 18,6 juta ton, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 19,1 juta ton. Hal tersebut berkontribusi terhadap laba bersih perseroan yang anjlok menjadi Rp 3,2 triliun pada kuartal ketiga 2015 dari Rp 4 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Ke depannya, menurut Suparni, Semen Indonesia akan mengalokasikan pasokan dari pabrik baru di Indarung untuk pasar Bangladesh. Pertimbangannya, secara geografis tidak terlalu jauh dengan negara tersebut. "Sedangkan di Australia ada aturan bahwa pabrik semen dilarang berdiri karena isu lingkungan. Tapi secara konsumsi, Australia tetap membutuhkan semen," katanya.
Rencana Semen Indonesia menyelesaikan pembangunan pabrik di Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang itu memang menuai penolakan yang berlarut. Sebagian penduduk Pegunungan Kendeng Utara menolak pembangunan ini hingga berujung di meja hijau. Sempat kalah di Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang, kini mereka mengajukan permohonan banding ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya.
Kontroversi ini juga melibatkan para pakar dan akademikus. Mantan Kepala Badan Geologi Surono mengatakan kawasan yang bakal menjadi penambangan merupakan Cekungan Air Tanah yang berfungsi sebagai daerah resapan, aliran, dan pelepasan air tanah. Adapun Untung Sudadi, peneliti geologi Institut Pertanian Bogor, mengatakan kawasan Kendeng Utara juga merupakan karst yang berfungsi pula menyerap air.
Namun, Semen Indonesia berpendapat lain. Budi Sulistijo, Koordinator penelitian Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia Institut Teknologi Bandung, yang membuat studi kelayakan untuk perusahaan pelat merah ini, mengatakan karst di lokasi tambang berjenis karst biasa, yakni batu gamping berongga. Tak ada penetapan kawasan itu sebagai bentang alam karst yang dilindungi.
Dalam perdebatan ini, Suparni pernah menyatakan pembangunan pabrik tak akan merusak lingkungan. Perusahaannya berpengalaman menambang batu kapur di sejumlah daerah, seperti Gresik dan Tuban.
