“Melihat apa yang terjadi di dunia, di Eropa. Demo di Jakarta, bukan apa-apa. Turbulensi di Indonesia bukan apa-apa,” kata Tom Lembong
Tom Lembong
Arief Kamaludin|KATADATA

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong mengatakan Indonesia harus bersaing dengan banyak negara untuk menarik minat investor. Terlebih ketika situasi dunia sedang mengalami ketidakpastian sekarang ini.

Di sisi ekonomi, misalnya, pemimpin di negara maju mulai mengarah pada kebijakan proteksi, seperti yang terjadi di Amerika Serikat setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden. Hal ini akan memengaruhi perekonomian dan permintaan global.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Persoalan politik juga dirasakan di Uni Eropa, seperti kelanjutan dari keluarnya Inggris (British Exit/Brexit) ataupun persoalan anggaran Yunani. Di Asia, juga berkembang isu untuk pemakzulan kepala negara seperti yang terjadi Korea Selatan. Isu terorisme yang masih berlangsung di Timur Tengah, telah menyebar ke beberapa negara Eropa.

Kondisi ini menunjukan situasi perekonomian dan politik dunia saat ini menjadi semakin tidak pasti. Ketidakpastian membuat investor menjadi semakin berhati-hati dalam menempatkan dananya, termasuk di Indonesia.

Menurut Thomas, sebenarnya Indonesia masih bisa dibilang aman dan paling reformis di seluruh dunia. Tak ada isu terorisme yang berlebihan terjadi Indonesia. Sekalipun ada isu politik jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), demonstrasi yang terjadi pun masih bisa dikendalikan.

“Melihat apa yang terjadi di dunia, di Eropa. Demo di Jakarta, bukan apa-apa. Turbulensi di Indonesia bukan apa-apa,” ujarnya dalam acara Mandiri Investment Forum di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (8/2). (Baca: Sri Mulyani: Ekonomi Indonesia Lebih Kebal Dibanding Tetangga)

Karena itu, ia yakin tren investasi di Indonesia masih akan positif. Tahun lalu, dia mencatat investasi tumbuh 12 persen. Yang kemudian berdampak pada salah satu indikator pertumbuhan ekonomi yakni Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 4,5 persen. Guna memastikan tren positif tersebut, pemerintah harus memastikan perekonomian Indonesia selalu dalam kondisi siap dalam menghadapi segala tantangan.

“Semua negara kan sedang berlomba-lomba menarik investasi. Kebetulan dengan masuknya Donald Trump ini kan tiba-tiba perhatian seluruh dunia ke sana. Jadi, bagaimana memastikan—istilahnya—Indonesia story (ekonominya) tetap bagus, masih tetap sexy dan segar,” ujar dia.

Dia mengatakan pemerintah sudah mempersiapkan strategi agar ‘cerita ekonomi’ Indonesia bisa tetap menarik di mata investor. Pertama, anggaran infrastruktur yang besar dan sudah berlangsung sejak awal pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. (Baca: Risiko Menurun, Moody's Naikkan Prospek Peringkat Utang Indonesia)

Kedua, perbaikan dengan terus membuat paket kebijakan dan memastikan implementasinya terus berjalan. Dari kedua strategi tersebut, pemerintah bahkan sudah berupaya mengatasi persoalan rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang selama ini menjadi keprihatinan investor.

“Isu ketenagakerjaan itu mungkin nomor tiga atau lima teratas, termasuk upah minimum (bagi investor),” tutur dia. “Kemampuan SDM Indonesia juga harus dikakui tertinggal. Karena itu Presiden sudah tekankan adanya pelatihan vokasional.” 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui pertumbuhan investasi menurun selama tiga tahun terakhir. Sementara yang terjadi saat ini, ketidakpastian mengurangi peluang untuk bisa mendorong pertumbuhan investasi lebih tinggi lagi.

Dengan adanya ketidakpastia global, membuat harga komoditas sulit bangkit dalam jangka pendek. “Kalau pun pulih prosesnya lama. Maka pemerintah harus memberi perhatian pada konsistensi kebijakan makro, kredibilitas, memperkuat kelembagaan dan tata kelola pemerintahan yang menjadi nilai kredibilitas paling utama Indonesia,” kata dia.

Untuk menjaga fundamental ekonomi yang stabil dan siap menghadapi tekanan global, ia memastikan bahwa belanja negara maksimal mendorong pertumbuhan. Perekonomian yang stabil akan mendorong peningkatan penerimaan negara. (Baca: Darmin Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 2018 Tembus 6 Persen)

Artikel Terkait
Investor masih mempertanyakan kesiapan infrastruktur hingga kemudahan perizinan di dalam negeri.
"Mungkin baru bisa terjadi di November atau Desember. Tapi kami bilang tidak akan mudah," ujar Hans
Dalam rentang 2012 hingga Agustus 2017, investasi startup melonjak 68 kali lipat. Dari hanya US$ 44 juta menjadi US$ 3 miliar.