Perbaikan kinerja ekspor nonmigas sudah tampak pada Januari 2017 lalu.
Peti Kemas Ekspor | KATADATA
Peti Kemas Ekspor | KATADATA KATADATA

DBS memprediksi pertumbuhan ekspor Indonesia di luar minyak dan gas (nonmigas) tahun ini akan melampaui target yang ditetapkan pemerintah sebesar 5,6 persen. Bahkan, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekspor bisa mencapai dua digit.

“Ke depan (pertumbuhan ekspor nonmigas) bisa mencapai hampir 10 persen, angka terakhir pemerintah yang di 5,6 persen kami nilai masih realistis, dan bahkan akan terus membaik,” kata Ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi di the Hermitage Hotel, Selasa (28/2).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca juga: Lawatan Raja Salman dan Eratnya Hubungan Ekonomi Arab-Cina)

Gundy pun mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat ekspor nonmigas Januari 2017 mencapai US$12,11 miliar. Angka itu naik 29,24 persen dibandingkan Januari 2016 lalu.

Menurut Gundy, membaiknya kinerja ekspor nonmigas Indonesia turut dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara. Selain itu, membaiknya harga komoditas ekspor utama Indonesia seperti batubara dan minyak sawit (Crude Palm Oil / CPO) juga dinilai positif.

Grafik: Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Indonesia 2000-2016
Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Indonesia 2000-2016

Lebih lanjut, Gundy juga mengatakan makin besarnya kontribusi sektor manufaktur pada pertumbuhan perekonomian bisa turut memacu pertumbuhan ekspor. Alasannya, selain terdapat kenaikan impor barang konsumsi, impor juga naik di barang modal yang bisa memacu produksi barang orientasi ekspor.

“Awal tahun ini impor barang modal naik 5 persen, itu berarti ada peningkatan investasi dalam negeri,” katanya.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan sebelumnya menargetkan ekspor tumbuh 5,6 persen tahun ini. Target ini diharapkan tercapai melalui perluasan pasar dan diversifikasi produk melalui perundingan perdagangan internasional. Target kenaikan ekspor tersebut merupakan koreksi dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang sebelumnya ditetapkan sebesar 11,9 persen.

(Baca juga:  Menteri Susi Protes Kuota Tuna Indonesia di Bawah Taiwan)

Bagaimanapun, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengakui bahwa target tersebut masih terbilang ambisius. Sebab, sepanjang Januari – November 2016, kinerja ekspor turun 5,63 persen, sementara impornya juga merosot 5,94 persen.

Muhammad Firman
Artikel Terkait
Sebelumnya seluruh retribusi pasar masuk ke Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehingga, dana pengelolaan pasar menunggu anggaran dari daerah.
"Meski CEO untuk Piala Dunia 2022 tidak sempat hadir, kami sudah ada pembicaraan untuk ikut menjadi konsorsium (kontraktor)," ujarnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi kinerja ekspor dan impor bakal kembali menanjak menjelang akhir tahun.