“Courtesy call sebagai pejabat baru dan meminta bantuan KPK melakukan pendampingan terutama terkait proyek-proyek dengan dana besar yang akan dikerjakan Pertamina."
Dirut Pertamina Temui KPK
Ketua KPK Agus Rahardjo (tengah) bersama Pimpinan KPK Basaria Panjaitan (kanan) dan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Elia Massa Manik (kiri) bersiap memberikan keterangan kepada wartawan seusai pertemuan di Gedung KPK, Jakarta, Senin (20/3). ANTARA FOTO/Reno Esnir

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) yang baru, Elia Massa Manik, tampaknya sangat berhati-hati dalam menangani dan menjalankan proyek-proyek besar di perusahaan pelat merah tersebut. Demi menjaga proyek-proyek itu, dia melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Keinginan tersebut disampaikan Elia saat bertandang ke Gedung KPK, Jakarta,  Senin (20/3). Juru bicara KPK Febri Diansyah membenarkan kunjungan tersebut. Salah satu tujuan kedatangan orang nomor satu di Pertamina ini adalah meminta bantuan kepada KPK. (Baca: Suara Lonjong Kabinet untuk Nakhoda Baru Pertamina)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurut Febri, Elia meminta bantuan untuk mendampingi dalam mengerjakan proyek yang ada di Pertamina. Namun, dia tak menyebutkan secara spesifik proyek-proyek yang dimaksud. “Courtesy call sebagai pejabat baru dan meminta bantuan KPK melakukan pendampingan terutama terkait proyek-proyek dengan dana besar yang akan dikerjakan Pertamina,” kata dia kepada Katadata, Senin (20/3).

Setelah terpilih sebagai Dirut Pertamina, Elia memang berambisi menjadikan perusahaan pelat merah ini bertaraf kelas dunia. Bahkan, ia siap dicopot dari jabatannya kalau terbukti melenceng selama bertugas.

Menurut Elia, Pertamina adalah perusahaan yang bagus. Jadi dia tidak suka jika hanya sekadar menumpang hidup di perusahaan tersebut. “Kalau saya melenceng ditegur, bahkan jika perlu dipecat saja,'' kata dia dalam konferensi pers dengan media di Gedung Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (16/3).

Saat ini Pertamina memiliki beberapa proyek di sektor migas, mulai hulu sampai hilir. Di sektor hulu, Badan Usaha Milik Negara ini diberikan mandat untuk mengelola delapan blok migas yang akan berakhir kontraknya di 2018. (Baca: 8 Blok Migas yang Akan Habis Kontrak Diserahkan ke Pertamina)

Untuk mengelola sektor hulu sampai 2025, Pertamina menyiapkan dana US$ 54 miliar atau setara Rp 719,7 triliun. Selain dialokasikan untuk investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas), dana itu juga untuk serta panas bumi (geothermal).

Sementara itu di sektor pengolahan, Pertamina akan membangun dan merevitalisasi empat kilang minyak di dalam negeri, yakni Cilacap, Balikpapan, Tuban dan Bontang. Kilang Cilacap membutuhkan dana investasi US$ 5 miliar atau sebesar Rp 65 triliun. Kilang ini bekerja sama dengan Saudi Aramco.

Kemudian Kilang Balikpapan membutuhkan dana US$ 5,2 miliar. Proyek peningkatan kapasitas kilang ini akan digarap sendiri oleh Pertamina dan didukung oleh Bechtel untuk pengerjaan engineering atau desain konstruksi.

Sementara untuk proyek kilang minyak baru di Tuban, dana investasinya US$14 miliar. Kilang ini digarap dengan perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Rusia, Rosneft. Adapun Kilang Bontang butuh US$8 miliar atau sekitar Rp106 triliun. (Baca: Pertamina Buka Peluang Aramco dan Rosneft Garap Kilang Bontang)

Di sisi hilir, Pertamina akan memiliki tugas untuk menjalankan program Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga. Program ini membutuhkan dana sekitar Rp380 miliar, plus biaya operasional keseluruhan per tahun yang mencapai Rp 900 miliar.

Artikel Terkait
Novel Baswedan akan mengungkap sosok jenderal jika permintaan agar pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) dikabulkan.
"Exxon minta US$ 121 juta di struktur Jambaran Tiung Biru," kata Syamsu.
Jadi apabila kebutuhan dalam negeri sudah berlebih, produk kilang itu bisa diekspor. “Mitra-mitra kami ini fair, jika kekurangan ya tidak apa-apa offtaker,” kata Arief.