Kapal asing itu tengah mengangkut bangkai kapal, sebab di area itu terdapat kapal supertanker Seven Skies milik Swedia dan kapal Igara Skies yang karam tahun 1969 silam.
Susi
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti didampingi Wakil KSAL Laksdya TNI Achmad Taufiqoerrochman memantau proses penenggelaman kapal pencuri ikan di perairan Pulau Ambon, Maluku, 1 April 2017. ANTARA FOTO/Izaac Mulyawan

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama TNI Angkatan Laut nyaris menahan kapal asing pencuri bangkai kapal di Perairan Anambas, Kamis (20/4). Kapal tipe Grab Hopper Dredger atau kapal keruk berbobot sekitar 8.000 GT tersebut berhasil kabur dan keluar dari wilayah perairan Indonesia.  

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti mengatakan kapal asing itu berhasil meloloskan diri ketika hendak ditarik oleh armada Angkatan Laut Indonesia. Padahal, seluruh Anak Buah Kapal (ABK) kapal tersebut sudah ditahan oleh TNI AL.

Sayangnya, saat tengah menunggu bantuan KRI Angkatan Laut, nakhoda kapal asing itu masih berada di atas kapalnya. Alhasil, kapal itu bisa dilarikan keluar yuridiksi perairan Indonesia. “Kami ingin mengumumkan tangkapan besar namun karena situasinya saat ini, kapal itu belum jelas posisi dan kendalinya. Yang sudah kami lakukan adalah mengevakuasi ABK (anak buah kapal),” kata Susi di rumah dinasnya, Jakarta, Jumat (21/4). 

Susi  mengaku belum bisa mengidentifikasi nama dan negara asal kapal. Yang jelas, berdasarkan keterangan dari ABK yang sudah ditahan, kapal tersebut tengah mencuri benda berharga muatan kapal tenggelam (BMKT) di Perairan Anambas. Saat ditangkap, kapal tersebut telah berhasil mengangkat sekitar 1.000 ton logam berat.

Disinyalir kapal tersebut tengah mengangkut bangkai kapal, sebab di area itu terdapat kapal supertanker Seven Skies milik Swedia dan kapal Igara Skies yang karam tahun 1969 silam. (Baca: Menteri Susi Tangkap 17 Kapal Pencuri Ikan Asal Vietnam dan Filipina)

Adapun, ABK yang ditangkap berjumlah 20 orang. Di antaranya ada 16 warga negara Tiongkok, 3 warga negara India, dan 1 warga negara Malaysia. Sedangkan lokasi tangkap tangan terjadi di koordinat 02 derajat 38’ 180” N – 150 derajat 13’ 460” E atau di sebelah barat Pos Angkatan Laut Jemaja Letung di sekitar Pulau Damai. 

Susi mengatakan, dua pesawat dan empat KRI hingga saat ini mencari dan melacak keberadaan kapal tersebut. Namun, diperkirakan kapal itu sudah kabur dari yuridiksi Indonesia. Saat ini, Kementerian KKP akan segera mengirimkan surat ke Interpol untuk menerbitkan red notice.

Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal TNI AL) Taufiqoerrochman menjelaskan, penangkapan berdasarkan informasi yang didapatkan dari nelayan sekitar yang curiga pada salah satu aktivitas kapal di perairan sekitar Anambas. Berbekal informasi tersebut, TNI AL mengerahkan kapal patroli dengan 4 awak.  Personil TNI AL mengamankan 20 ABK kapal tersebut pada Kamis (20/4), pukul 14.30 siang. Para ABK tersebut dibawa ke Pulau Tarempa dan Jumaja.

Sementara tiga personil TNI AL kembali ke pos meminta bantuan KRI TNI AL untuk menderek kapal pencuri tersebut. Adapun, satu personil lainnya ditugaskan menunggu kapal tersebut di perahu pom pom.

Ketika tengah menunggu itulah, kapal tersebut berhasil meloloskan diri.  Sialnya, saat KRI TNI AL tiba pukul 23.30, kapal tersebut sudah tidak ada di lokasi. “Kami ini keterbatasaan armada patroli,” katanya.

Perairan Indonesia diyakini menyimpan banyak barang muatan kapal tenggelam. Sebab, ada banyak jalur pelayaran strategis di perairan Indonesia yang sejak dulu dilalui kapal-kapal besar. (Baca: Menteri Susi Buka Galeri Ribuan Harta Karun Laut di Kantornya)

Berdasarkan hasil kajian Badan Riset Kelautan dan Perikanan tahun 2000, ada 463 lokasi yang menyimpan harta karun muatan kapal tenggelam di perairan Indonesia. Lokasi itu tersebar sebagian besar di perairan Kepulauan Riau, Selat Karimata, Perairan Bangka-Belitung, Laut Jawa.

Sebaran kapal tenggelam tersebut umumnya membawa komoditi dan barang dari Cina, Asia Barat dan Eropa seperti Belanda (VOC), Inggris dan Spanyol.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian KKP Brahmantya Satyamurti mengatakan, muatan kapal tenggelam memiliki nilai yang kompleks, tidak saja secara ekonomi tapi juga sejarah dan ilmu pengetahuan. Teka-teki mengenai perdagangan, teknologi dan hubungan antar bangsa dapat terjawab melalui temuan kapal dan barang-barang yang diangkutnya.

Dari sisi ekonomi, setiap lokasi kapal tenggelam dapat menyimpan harta karun bernilai antara US$ 80 ribu sampai 18 juta. Sementara apabila dimanfaatkan untuk mendukung pariwisata, bangkai kapal yang dibiarkan utuh dengan muatannya dapat menghasilkan US$ 800 – 126,000 per bulan bulan di tiap lokasi.