Ada vas Liao dari abad ke 10 dan botol hijau dari Dinasti Fatimiyah. "Nilainya tidak boleh dihitung dengan rupiah."
Pameran Barang Muatan Kapal Tenggelam
Pengunjung mengamati barang koleksi Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) yang dipamerkan di Galeri BMKT, Gedung Mina Bahari IV, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Selasa (14/3). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meresmikan Galeri Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta. Ada sekitar 1.500 item “harta karun” yang kini dipamerkan secara terbuka untuk masyarakat.

Susi mengatakan harta karun muatan kapal tenggelam yang ditemukan ini merupakan bagian dari identitas Indonesia sebagai negara maritim. “Nilainya tidak boleh dihitung dengan rupiah, tapi sebagai sejarah yang enggak ada nominalnya. Ini bagian dari bangsa kita," kata Susi saat meresmikan Marine Haritage Gallery di Gedung Mina Bahari IV Lantai 2, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin (13/3).

Di antara ribuan item yang dipajang, galeri ini juga menyimpan beberapa koleksi langka seperti vas Liao dari abad ke 10 dan botol hijau dari Dinasti Fatimiyah. Selain itu, ada juga produk massal, seperti guci, kendi, piring, hingga mangkuk-mangkuk keramik.

(Baca juga:  Sidak Menteri Susi Temukan Praktik Manipulasi Kapal)

Susi mengatakan galeri ini bukan sekadar sebuah ruang, melainkan pesan tanggung jawab pemerintah untuk membawa kekayaan bahari agar lebih dekat kepada masyarakat.

“Sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, rasanya tidak ikhlas membiarkan begitu saja, seperti tidak memiliki sejarah. Dan Galeri ini bagian dari sejarah kita”, katanya.

Oleh karena itu, ia juga mengajak para kolektor agar dapat bersama memikul tanggung jawab tersebut. Para kolektor diminta untuk meminjamkan koleksinya pada pemerintah untuk ditampilkan ke publik.

Perairan Indonesia diyakini menyimpan banyak barang muatan kapal tenggelam. Sebab, ada banyak jalur pelayaran strategis di perairan Indonesia yang sejak dulu dilalui kapal-kapal besar.

(Baca juga: Rombak Eselon I, Menteri Susi Ingin Genjot Perikanan Tangkap)

Berdasarkan hasil kajian Badan Riset Kelautan dan Perikanan pada tahun 2000, ada 463 lokasi yang menyimpan harta karun muatan kapal tenggelam di perairan Indonesia. Lokasi itu tersebar sebagian besar di perairan Kepulauan Riau, Selat Karimata, Perairan Bangka-Belitung, Laut Jawa.

Sebaran kapal tenggelam tersebut umumnya membawa komoditi dan barang dari Cina, Asia Barat dan Eropa seperti Belanda (VOC), Inggris dan Spanyol.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Brahmantya Satyamurti mengatakan muatan kapal tenggelam memiliki nilai yang kompleks, tidak saja secara ekonomi tapi juga sejarah dan ilmu pengetahuan. Teka-teki mengenai perdagangan, teknologi dan hubungan antar bangsa dapat terjawab melalui temuan kapal dan barang-barang yang diangkutnya.

(Baca juga: Pemerintah Gagalkan Penyelundupan Benih Lobster Senilai Rp 7 Miliar)

Dari sisi ekonomi, setiap lokasi kapal tenggelam dapat menyimpan harta karun bernilai antara US$ 80 ribu sampai 18 juta. Sementara apabila dimanfaatkan untuk mendukung pariwisata, bangkai kapal yang dibiarkan utuh dengan muatannya dapat menghasilkan US$ 800 – 126,000 per bulan bulan di tiap lokasi.

“Nilai inilah yang kemudian mendasari Pemerintah untuk mengelola barang muatan kapal tenggelam dan tidak ingin menyerahkannya kepada pihak lain,” Brahmantya.

Muhammad Firman Eko Putra