Lampaui Proyeksi, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Capai 5,01 Persen
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuatal I 2017 mencapai 5,01 persen. Pencapaian tersebut lebih tinggi dibanding proyeksi Bank Indonesia (BI) yang meramalkan pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen lantaran melihat seretnya penjualan ritel.
Menurut Kepala BPS Suhariyanto penjualan ritel memang tumbuh melambat, namun laju ekonomi masih bisa disokong oleh stabilnya konsumsi rumah tangga dan investasi, serta peningkatan kinerja ekspor dan belanja lembaga nonprofit terkait pemilihan umum kepala daerah.
Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,93 persen, sedikit lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu yaitu 4,97 persen. Namun, perannya tetap signifikan terhadap laju ekonomi lantaran kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 57 persen.
Penurunan pertumbuhan konsumsi rumah tangga tampak dari impor barang konsumsi dan transaksi kartu kredit yang tumbuh melambat. “Impor barang konsumsi tumbuh 5,61 persen. Juga lebih rendah dari tahun lalu 24,1 persen. Transaksi dengan kartu kredit juga turun,” kata Suhariyanto saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (5/5). (Baca juga: Luruskan Klaim Pertumbuhan Ekonomi, Jokowi: Terbesar ke-3 di G20)
Sementara itu, investasi atau Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat tumbuh sebesar 4,81 persen, meningkat tipis dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 4,67 persen. PMTB merupakan pengeluaran untuk barang modal sebagai investasi, seperti untuk bangunan, jalan dan bandara, serta mesin dan peralatan. Penyumbang utamanya, belanja modal pemerintah yang tumbuh 15,75 persen. (Baca juga: Pemerintah Bidik 91,5 Persen Dana Investasi 2018 dari Luar APBN)
Belanja Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) juga mengalami pertumbuhan sebesar 8,02 persen, lebih tinggi dari periode sama tahun lalu yang sebesar 6,38 persen. Pertumbuhan didorong pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) di 101 daerah.
Kinerja ekspor juga tercatat membaik. Pertumbuhan mencapai 8,04 persen atau naik signifikan dibanding tahun lalu yang terkontraksi 3,29 persen. Kinerja ekspor ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi mitra dagang Indonesia seperti Cina, Amerika Serikat (AS), dan Jepang.
Suhariyanto merinci, ekspor barang tumbuh 8,13 persen, utamanya di non migas (minyak dan gas) tumbuh 9,19 persen, sedangkan migas terkontraksi. “Ekspor jasa tumbuh bagus seiring naiknya jumlah wisman, perkembangan wisman (wasatawan mancanegara) di Indonesia lumayan bagus di Maret yang komposisi wisman utamanya dari Cina,” tutur dia.
Impor juga tercatat meningkat. Pertumbuhan impor mencapai 5,02 persen, membaik dari tahun lalu yang negatif 5,14 persen. Impor barang dan jasa tumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan domestik.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah hanya tumbuh 2,71 persen, melambat dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 3,43 persen. Penyebabnya, belanja barang dan pegawai yang tumbuh melambat, masing-masing hanya 3,71 persen dan 0,78 persen. (Baca juga: Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Capai Target Meski Belanja Seret)
Seperti disinggung di awal, penjualan ritel juga tumbuh melambat menjadi hanya 4,2 persen. Padahal, pertumbuhannya mencapai 11,5 persen pada periode sama tahun lalu. Hal serupa terjadi pada penjualan mobil penumpang yang hanya tumbuh 8,19 persen, melambat dari periode sama tahun lalu yang mencapai 14,26 persen.
Pertumbuhan Ekonomi 2016-2017
| 2016 | 2017 | ||||||
| Q1 | Q2 | Q3 | Q4 | Fullyear | Q1 | Proyeksi Pemerintah Fullyear | |
| Konsumsi Rumah Tangga | 4,97 | 5,04 | 5,01 | 4,99 | 5,01 | 4,93 | 5* |
| LNPRT | 6,38 | 6,72 | 6,65 | 6,72 | 6,62 | 8,02 | |
| Konsumsi Pemerintah | 3,43 | 6,28 | -2,97 | -4,05 | -0,15 | 2,71 | 4,8 |
| PMTB | 4,67 | 5,06 | 4,06 | 4,80 | 4,48 | 4,81 | 6,1 |
| Ekspor | -3,29 | -2,73 | -,6 | 4,24 | -1,74 | 8,04 | 0,3 |
| Impor | -5,14 | -3,01 | -3,9 | 2,82 | -2,27 | 5,02 | 0,4 |
| PDB | 4,92 | 5,18 | 5,02 | 4,94 | 5,02 | 5,01 | 5,2 |
* Proyeksi Konsumsi Rumah Tangga dan LNPRT
Kuatnya pertumbuhan ekonomi di kuartal I sejalan dengan proyeksi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Sebelumnya, ia optimistis laju ekonomi di kuartal I bisa menembus 5 persen, atau di atas proyeksi BI yang hanya 4,94 persen. “Saya anggap lebih baik (dari perkiraan BI) antara 5-5,1 persen,” kata Darmin. (Baca juga: Meski BI Pesimis, Darmin Yakin Ekonomi Kuartal I Tumbuh 5 Persen)
Menurut dia, ada tiga indikator yang mendasari optimisme tersebut. Pertama, kenaikan harga komoditas seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan karet. Hal tersebut diyakini mampu menggenjot pendapatan dan konsumsi masyarakat, khususnya di daerah penghasil komoditas seperti Kalimantan dan Sumatera.
Kedua, kenaikan kinerja ekspor yang juga didorong oleh kenaikan harga komoditas. Tahun ini, pemerintah memperkirakan nilai ekspor bisa tumbuh 0,3 persen atau berbalik dari penurunan 1,7 persen tahun lalu.
Terakhir, investasi yang meningkat. “Walau kami belum tahu investasi seperti apa datanya, tapi pasti tidak turun, naiknya seberapa besar saya enggak bisa bilang. Tapi kalau tiga faktor sudah naik, pertumbuhan pasti membaik,” ujar dia.
Selain itu, Darmin pernah menjelaskan, kembali bergesernya panen raya ke kuartal I juga bakal membuat pertumbuhan ekonomi tinggi sejak awal tahun. Ia pun memproyeksi ekonomi domestik bisa tumbuh 5,3 persen tahun ini, di atas target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 yang sebesar 5,1 persen.
“Tahun lalu, panen bergeser ke kuartal II, tapi di 2017 ini balik lagi ke kuartal I. Itu enggak ditangkap di semua model (proyeksi perekonomian). Tahun ini (pertumbuhan ekonomi) bisa 5,2-5,4 persen, rata-rata 5,3 persen,” kata dia. (Baca juga: Disokong Panen Raya Awal Tahun, Darmin: Ekonomi Capai 5,3 Persen)
Sebelumnya, Kepala Ekonom SKHA Consulting Eric Sugandi juga melihat peluang ekonomi tumbuh lima persen pada Kuartal I-2017. Namun, ia mengakui ada risiko ekonomi tumbuh lebih rendah di kisaran 4,9 persen. Penyebabnya, konsumsi rumah tangga yang diperkirakan hanya tumbuh 4,9 persen saja pada kuartal I.
"Di kuartal I ini daya beli masyarakat, terutama di Pulau Jawa, agak tergerus oleh inflasi akibat kenaikan harga yang diatur pemerintah (administered prices) seperti Tarif Dasar Lisrik (TDL)," ujar dia kepada Katadata.
