Penyerapan fasilitas pembiayaan rumah murah terbesar ada di Papua Barat.
perumahan
Kawasan perumahan dengan latar belakang perbukitan di Kelapa Nunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/3). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Hingga 4 Mei lalu, realisasi penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) baru mencapai 3.849 unit senilai Rp 439,41 miliar. Angka itu baru 3,21 persen dari target yang ditargetkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun ini yakni 120 ribu unit rumah.

Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan, Kementerian PUPR, Lana Winayanti menyebut minimnya lahan jadi penyebabnya. “Untuk lokasi MBR, masih jarang Pemda yang sudah menetapkan,” katanya di kantornya, Jumat (19/5).

Lana mengatakan, jajarannya telah menerima keluhan dari para pengembang dan masyarakat soal ini. Selain lahan yang terbatas, harganya juga sangat tinggi. Hal ini menurutnya bisa diselesaikan oleh Pemda.

(Baca juga: Kredit Rumah di Indonesia Masih Minim, Jauh di Bawah Negara Tetangga)

Ia pun meminta Pemda membuat Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman (RP3KP) untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam RP3KP, Pemda harus menginventarisir segmentasi, range perumahan, sebaran perumahan, jumlah perumahan yang akan dibangun

Selain itu Pemda harus mempermudah izin peruntukan lahan untuk program ini. “Data ini akan sangat bermanfaat baik pemerintah dalam intervensi kebijakan maupun pengembang,” katanya.

Adapun secara rinci program FLPP MBR ini tahun ini targetnya bisa membangun rumah tapak sebanyak 119.900 unit. Sedangkan rumah susun sebanyak 100 unit. Tahun ini program FLPP MBR jadi bagian dari program sejuta rumah yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.

(Baca juga: Kuartal I, Realisasi Program Sejuta Rumah Baru 169 Ribu Unit)

Direktur Utama Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Budi Hartono mengatakan  Provinsi Papua Barat sebagai provinsi dengan realisasi penyaluran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) paling tinggi hingga April 2017.

 “Dari Januari sampai April tahun ini penyerapan terbesar ada di Papua Barat, sebanyak 508 unit sekitar Rp 96 miliar,” katanya.

Selama periode 2010  sampai 2017 penyaluran program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) FLPP telah mencapai 499.914 unit atau senilai Rp 28,66 triliun. Dengan 87,04 persen melalui pembiayaan KPR Bank BTN senilai 24,06 triliun disusul BTN Syariah sebanyak 6,29 persen senilai 1,85 triliun.

(Baca juga: Kemenkeu Dorong Uang Muka 1 Persen untuk Rumah Murah)

Sementara hingga Kuartal I 2017 realisasi program sejuta rumah baru mencapai 169.614 unit. Dari jumlah itu, rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sebanyak 155.408 unit serta rumah untuk non-MBR sebanyak 14.206 unit.

Muhammad Firman Eko Putra