"Bahwa pertumbuhan di kuartal II mungkin agak sedikit lebih rendah," kata Agus D.W. Martowardojo.
Gubernur BI, Agus Martowardojo
Gubernur BI, Agus Martowardojo Arief Kamaludin|KATADATA

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo mengindikasikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II ini tidak sesuai harapan. Padahal, sebelumnya bank sentral memprediksi ekonomi kuartal II lebih baik daripada kuartal I lalu dan tumbuh sebesar 5,11 persen.

"Bahwa pertumbuhan di kuartal II mungkin agak sedikit lebih rendah," kata Agus di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (19/6). Namun, dia belum mau menjelaskan alasan proyeksi pertumbuhan ekonomi uartal II yang lebih rendah. Padahal, pada periode ini ada momen Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang biasanya memacu konsumsi dan mengerek pertumbuhan ekonomi.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca: Investasi dan Ekspor Naik, BI Ramal Ekonomi Kuartal II Lebih Tinggi)

Yang jelas, menurut Agus, investasi memang mulai meningkat, terutama investasi nonbangunan. Alhasil, momentum pertumbuhan ekonomi yang lebih baik bakal bergeser ke kuartal III nanti. "Kami lihat investasi swasta sudah mulai bangkit, bahkan yang nonbangunan. Ini mencerminkan nanti pertumbuhan ekonomi 2018 lebih baik," ujarnya.

Pada pertengahan Mei lalu, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II ini bisa mencapai 5,11 persen. Penopangnya adalah kenaikan ekspor dan konsumsi rumah tangga yang didukung oleh momen Bulan Ramadan.

Pertumbuhan ekspor ditopang oleh kenaikan harga komoditas. Efek lanjutannya, penghasilan masyarakat meningkat, terutama di daerah penghasil produk berbasis Sumber Daya Alam (SDA). (Baca: Tersulut Belanja Ramadan dan Bansos, Ekonomi Kuartal II Diramal Naik)

"Indonesia kalau seandainya harga komoditi di Sumatera, Kalimantan, dan kawasan timur Indonesia itu meningkat biasanya konsumsinya meningkat. Jadi kami harapkan konsumsi akan bangkit di kuartal II dan III," kata Agus.

Kondisi ini juga diharapkan bisa mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Apalagi, pada Ramadan dan Idul Fitri biasanya konsumsi meningkat.

Selain ekspor dan konsumsi rumah tangga, peningkatan konsumsi pemerintah juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang positif. Sementara itu, investasi pemerintah juga tumbuh positif, terutama investasi bangunan.

Berdasarkan kondisi tersebut, Agus memperkirakan ekonomi tahun ini bisa tumbuh sebesar 5,2 persen. "Kuartal II (diproyeksi) 5,1 persen. Pada Kuartal III-IV akan di atas 5,2 persen," katanya. (Baca: Diadang Tarif Listrik, Ekonomi 2017 Diramal Bank Dunia Tumbuh 5,2%)

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan ada empat faktor pendukung pertumbuhan ekonomi tahun ini. Pertama, pertumbuhan ekspor yang tercatat sebesar delapan persen. Peningkatan ini seiring pulihnya kondisi perekonomian dunia sehingga mengerek permintaan komoditas baik dari Tiongkok dan India.

"Harga komoditas di dunia pun naik. Indeks harga komoditas ekspor kami djperkirakan naik sekitar 15 persen lebih baik dari perkiraan sebelumnya," katanya.

Kedua, konsumsi rumah tangga yang tumbuh stabil. Ketiga, belanja pemerintah baik pegawai, barang, dan modal  menstimulasi pertumbuhan ekonomi. Keempat, investasi juga diperkirakan akan terus menguat.

"Selama ini investasi kuatnya di bangunan. Ke depan kami harap yang nonbangunan juga karena kenaikan ekspor," katanya. (Baca: Ada Banyak Indikator, Darmin Optimistis Ekonomi Indonesia Kian Baik)

Sebelumnya, Tim ekonom Bank Mandiri juga meramalkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1 persen pada kuartal II 2017 atau menguat dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 5,01 persen. Penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga sepanjang Ramadan dan Idul Fitri.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Hermanto Gunawan memperkirakan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga bisa mencapai 5-5,4 persen pada kuartal II, atau meningkat dari kuartal sebelumnya yang sebesar 4,93 persen, dan periode sama tahun lalu yang sebesar 5,04 persen. "Kuartal II, taksiran saya (pertumbuhan konsumsi rumah tangga) sih bisa lima (persen) atau lebih, tapi enggak sampai 5,5 persen," katanya, 31 Mei lalu.

Artikel Terkait
Agus menyatakan target inflasi sebesar 3,5% nilai tukar rupiah Rp 13.500 per dolar Amerika Serikat (AS) sudah sejalan dengan proyeksi BI.
Dengan adanya peta jalan e-commerce, pengusaha juga meminta peraturan pajak transaksi online disederhanakan.
Utang luar negeri sektor publik (pemerintah dan bank sentral) tumbuh 7,3% secara tahunan, sedangkan utang luar negeri swasta turun 1,4%.