Rasio gini cenderung stagnan. Ketimpangan penghasilan masyarakat di desa dan kota masih tinggi.
ATM beras miskin
Warga mengambil beras menggunakan kartu ATM beras pada mesin ATM beras untuk warga miskin di Trenggalek, Jawa Timur, Senin (20/2/2017). ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,77 juta orang atau 10,64% dari total populasi pada Maret 2017,. Meskipun secara persentase menurun 0,06 % dibanding September 2016, jumlah penduduk miskin bertambah sekitar 6.900 orang.

"Terlambatnya distribusi Beras Sejahtera (Rastra) menjadi salah satu alasan penurunan persentase penduduk miskin relatif lebih lambat dibandingkan periode-periode sebelumnya," kata Kepala BPS Suhariyanto kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Senin (17/7).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurut Suhariyanto, beras memiliki kontribusi paling besar pada pengeluaran masyarakat miskin. Menurut catatan BPS, kontribusi beras terhadap kemiskinan sebesar 20,11 % di kota dan 26,46 % di desa. (Baca juga:  Bappenas: Angka Kelahiran Perlu Dijaga Agar Indonesia Kaya Lebih Lama)

Persentase penduduk miskin di perkotaan pada September 2016 sebesar 7,73 % atau turun menjadi 7,72 % pada Maret 2017. Sedangkan persentase penduduk miskin di perdesaan pada September 2016 sebesar 13,96 %, turun menjadi 13,93 % pada Maret 2017.

Selama periode September 2016 - Maret 2017, jumlah penduduk miskin di perkotaan naik sebanyak 188,19 ribu orang dari 10,49 juta orang menjadi 10,67 juta orang. Sementara, di daerah perdesaan turun sebanyak 181,29 ribu orang, yakni dari 17,28 juta orang pada September 2016 menjadi 17,10 juta orang pada Maret 2017.

Grafik: Pertumbuhan Ekonomi dan Angka Kemiskinan Indonesia Periode 2010-2018
Pertumbuhan Ekonomi dan Angka Kemiskinan Indonesia Periode 2010-2018



Suhariyanto pun menggarisbawahi tingginya disparitas tingkat penduduk miskin di kota dan di desa. " Di kota 7,72 %, tetapi di desa 13,93 %, hampir dua kali lipat. Ini menunjukkan persoalan kemiskinan itu ada di pedesaan," ujarnya.

BPS mencatat, persentase penduduk miskin tertinggi ada di Provinsi Papua sebesar 27,62 % dan jumlah penduduk miskin terendah di Provinsi DKI Jakarta sebesar 3,77 %.

Sementara, BPS juga mencatat angka ketimpangan atau rasio gini cenderung stagnan. Pada September 2016 angkanya sebesar 0,394 dan menjadi 0,393 pada Maret 2017. (Baca juga: Ekonomi Dipatok 5,2 Persen, Pemerintah Target 2 Juta Kesempatan Kerja)

Dia menyarankan pemerintah untuk memfokuskan upaya penurunan angka kemiskinan dengan pembangunan yang terkonsentrasi ke bagian timur Indonesia. Sebab secara persentase, penduduk miskin terbanyak ada di Maluku dan Papua sebanyak 21,45 %. Meski, jumlah penduduk miskin terbanyak ada di Pulau Jawa dengan jumlah 21,45 juta orang.

Selain itu, Suhariyanto mengatakan, ada tiga langkah untuk mengurangi ketimpangan yang ada di Indonesia, terutama di perkotaan. "Pertumbuhan harus berkualitas, infrastruktur harus baik, dan iklusi sosial," ujarnya.

Michael Reily
Artikel Terkait
Malaysia merupakan yang terbesar dalam hal keuangan Syariah, sedangkan Filipina dalam hal industri makanan halal.
“Itu kewajiban kami saja. Itu gambaran kami mau bangun Indonesia sentris.”
Per semester I-2017 Indeks Gini Indonesia sebesar 0,39. Meski mengalami penurunan, tingkat ketimpangan tersebut masih jauh dari target pemerintah.