Pemerintah dinilai terlalu fokus memunculkan startup baru, sementara permodalan lanjutannya kurang diperhatikan.
Tech in Asia
Jumlah pendanaan startup hingga kuartal II-2016 mencapai Rp 2,09 triliun, atau melonjak tinggi dibandingkan kuartal sama tahun lalu sebesar Rp 68,4 miliar. Arief Kamaludin|KATADATA

Pelaku e-commerce terhambat masalah pendanaan untuk mengembangkan usaha. Sebab, tanpa rencana bisnis dan pendanaan yang memadai, akan sedikit sekali yang dapat bertahan.

Chief Marketing Officer GDP Venture Danny Oei Wirianto menyatakan, pemerintah terlalu fokus pada penciptaan perusahaan startup baru. "Daripada mengejar perusahaan baru, lebih baik perusahaan digital yang ada dimaksimalkan," kata Danny pada diskusi tentang e-commerce di Jakarta, Rabu (23/8).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Oleh karena itu, Danny mengkritik program penciptaan 1.000 startup baru dari pemerintah. Sebab, program penciptaan itu tak ada tindak lanjutnya. "Kemungkinan dari 1.000 startup hanya 2 persen yang bertahan," ujarnya.

(Baca juga:  Bos Alibaba, Jack Ma Resmi Jadi Penasihat E-Commerce Indonesia)

GDP Venture sebagai perusahaan investasi digital yang merupakan bagian dari Grup Djarum, menurut Danny, menerima proposal pendanaan dari 10 ribu startup baru setiap tahun. Namun, dia menilai, pengembangan perusahaan yang sudah setengah jalan memiliki potensi lebih besar.

Dia mengungkapkan, perusahaan yang telah berkembang mempunyai konsep yang lebih baik daripada pesaingnya. Sehingga mampu untuk berjalan walau pendanaannya tidak besar.

Dia memberi contoh Carousel, perusahaan startup yang menjual barang bekas mempunyai konsep berbeda daripada pesaingnya. Menurut catatannya, GDP Venture berhasil mendapatkan keuntungan puluhan kali lipat karena melihat potensi tersebut.

(Baca juga:  Dilirik Alibaba hingga Amazon, Begini Persaingan e-Commerce Indonesia)

Sementara, Managing Director Kukuruyuk.com Stanly Stefano juga menyatakan persaingan usaha dalam bisnis e-commerce adalah pendanaan. Dia menjelaskan, dukungan dana yang besar bakal memastikan pertumbuhan usaha.

"Walau saya cuma memimpin 26 karyawan, tapi saya memikirkan cara untuk memperoleh keuntungan setiap harinya," kata bos perusahaan digital yang menjual barang-barang tidak laku di pasar ini.

Di sisi lain, Direktur e-Business Kementerian Komunikasi dan Informasi Azhar Hasyim menyatakan peran pemerintah hanya mendanai program 1.000 startup. Untuk proses pengajaran peserta bakal dilakukan oleh pelaku e-commerce yang profesional.

"Langkah-langkah yang telah dilakukan perusahaan yang jadi unicorn, metodenya akan kami contoh," kata Azhar.

(Baca juga:  Terima Rp 14,6 Triliun dari Alibaba, Tokopedia Bangun Pusat Riset)

Michael Reily
Artikel Terkait
Dengan pajak dan bea masuk atas produk yang diimpor melalui e-commerce, pengusaha konvensional lokal akan punya kesempatan bersaing dari segi harga.
"Satu-satunya solusi adalah kita harus impor, karena kita perlu. Kalau sedang panen kita tidak perlu," kata Zulkifli
PayTren merupakan aplikasi pembayaran dan transaksi mobile milik ustadz Yusuf Mansur.