Prediksi nilai tukar rupiah yang melemah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, di antaranya kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) dan bank sentral Eropa.
Uang rupiah
Arief Kamaludin (Katadata)

Ketidakpastian global membuat nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah. Bank Indonesia (BI) memprediksi nilai tukar rupiah berada di level Rp 13.420 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2017. Level tersebut jauh lebih lemah dari saat ini yang di kisaran Rp 13.100 per dolar AS.

Pelemahan rupiah bahkan berisiko berlanjut ke tahun depan. BI memprediksi rupiah mencapai Rp 13.550 per dolar AS di akhir 2018. "Tapi kami tahu kenyataannya per hari ini di bawah Rp 13.400 per dolar AS," kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara saat Rapat Kerja dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (11/9).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

BI beralasan, prrdiksi nilai tukar rupiah yang melemah tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Maka itu, perbaikan-perbaikan ekonomi yang terjadi di dalam negeri belum cukup untuk membuat rupiah menguat. "Faktor eksternal ini sulit diperkirakan. Bobotnya berapa? Mungkin bisa di atas 50% (terhadap nilai tukar rupiah)," kata Mirza.

Faktor eksternal yang dimaksud di antaranya terkait kenaikan bunga dana AS (Fed Fund Rate). Tahun ini, Fed Fund Rate masih berpeluang naik sekali lagi di akhir tahun, namun kemungkinannya hanya 30%. Sedangkan tahun depan, belum ada kepastian. (Baca juga: Kurs Rp 13.100 per Dolar AS, Tertinggi dalam 10 Bulan Terakhir)

“Tahun depan tidak pasti apakah dua atau tiga kali, ini harus dipantau. Kalau (dolar AS) terus meningkat kembali di 2018, bisa saja daya tarik mata uang EM (emerging market atau negara ekonomi berkembang) menjadi kurang dibanding situasi di 2017," ujar dia.

Faktor eksternal lainnya yang juga mempengaruhi nilai tukar yaitu suku bunga di Eropa yang kemungkinan meningkat tahun depan. Meskipun, saat ini, bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) terindikasi belum akan mengurangi stimulusnya (quantitative easing). Tapi, arah untuk memperketat kebijakan moneternya sudah jelas.

"Ada perubahan tren dunia yaitu terus naiknya suku bunga di AS dan kami tunggu suku bunga di Eropa mungkin naik. Mungkin bukan Semester I 2018 tapi trennya akan naik," kata dia. Atas dasar itu, menurut dia, Indonesia akan menghadapi kondisi yang tidak pasti di 2018.

Nilai tukar rupiah menguat ke kisaran Rp 13.100 per dolar AS mulai Jumat (8/9). Rupiah ditutup di level Rp 13.185 per dolar AS atau menguat 0,91% dibanding perdagangan sehari sebelumnya. Penguatan berlanjut pada Senin (11/9), nilai tukar rupiah menguat 0,22% ke level 13.156 per dolar AS. 

Artikel Terkait
BI mengatur biaya gratis isi ulang uang elektronik dalam batasan tertentu dengan transaksi di bank yang menerbitkan.
Perbankan nasional khawatir fintech asing dapat menguasai pasar dalam negeri. BI berjanji menerapkan standar yang sama.
BI akan mengatur batasan pengenaan biaya untuk isi ulang (top up) uang elektronik .