Sementara pada semester I 2017, pertumbuhan penyaluran kredit BCA telah melampaui 11%.
Bank BCA
Arief Kamaludin (Katadata)

PT Bank Central Asia Tbk mematok pertumbuhan kredit pada tahun ini dikisaran 8-10%, sama seperti proyeksi yang di keluarkan oleh Bank Indonesia (BI). Bank swasta nasional tersebut tidak ingin agresif menggenjot penyaluran kreditnya.

Direktur Bank BCA Henry Koenaifi menuturkan, banknya hanya akan menyalurkan kredit sesuai permintaan nasabah. Henry mengatakan, tidak akan agresif menggenjot penyaluran kredit ini ke sembarang tempat. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Alhasil, dirinya mengatakan, target pertumbuhan kredit Bank BCA sampai dengan akhir tahun ini sesuai ketetapan BI, yakni 8-10 persen. "Sampai akhir tahun, sepertinya target kami sekitar segitu juga," ujarnya saat ditemui di Menara BCA, Jakarta, Rabu (12/9).

(Baca juga:  BI Pastikan Isi Ulang Uang Elektronik Dikenakan Biaya)

Sampai dengan semester I-2017, penyaluran kredit Bank BCA mencapai Rp 433 triliun atau naik 11,9% dari periode sama tahun lalu. Pertumbuhan didorong oleh kredit korporasi dan konsumer. Kredit korporasi tercatat tumbuh 18,7% menjadi Rp 160,7 triliun. Sedangkan, kredit konsumer tumbuh 18,4% menjadi Rp 124,5 triliun. 

Pertumbuhan tinggi kredit konsumer ditopang oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang tumbuh 21,9 % menjadi Rp 75,3 triliun. Hal tersebebut diklaim berkat pemberian bunga yang kompetitf. Sementara itu, kredit kendaraan bermotor meningkat 12,2% menjadi Rp 38,2 triliun dan kartu kredit naik 18% menjadi Rp 11,1 triliun.

Di sisi lain, kredit komersial dan Usaha Kecil menengah (UKM) hanya tumbuh tipis yakni 1,2% menjadi Rp 148,3 triliun. Menurut Jahja, hal ini disebabkan oleh ketatnya persaingan di sektor tersebut.

(Baca juga: Upaya Pemulihan Satelit Selesai, Telkom Tetap Monitor Konektivitas)

Di sisi lain, BCA juga masih bersikap konservatif dengan memberikan persyaratan yang cukup berat. Hal ini lah yang membuat pertumbuhannya hanya naik tipis. "Jadi, kalau demand nya cuma sampai 8%, ya hanya segitu, Kalau kami push tinggi kan jadi tidak bagus nanti," ujar Henry.

Sebelumnya, BI juga kembali merevisi proyeksi pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2017 ini menjadi dikisaran 8-10 persen. Padahal, sebelumnya, BI memproyeksikan penyaluran kredit bisa mencapai 10-12 persen.

Miftah Ardhian
Artikel Terkait
BI mengatur biaya gratis isi ulang uang elektronik dalam batasan tertentu dengan transaksi di bank yang menerbitkan.
Perbankan nasional khawatir fintech asing dapat menguasai pasar dalam negeri. BI berjanji menerapkan standar yang sama.
BI akan mengatur batasan pengenaan biaya untuk isi ulang (top up) uang elektronik .