Spiegel memakai sejumlah istilah untuk menjelaskan tanda-tanda keruntuhan Deutsche Bank. "Inkompetensi, keserakahan, kesombongan, kelemahan, dan dusta".
Bursa-BEI
Arief Kamaludin|KATADATA

Nasib Deutsche Bank dan dampaknya terhadap pasar keuangan dan perekonomian dunia mendatang, masih diliputi tanda tanya. Ada yang meramal, salah satu bank terbesar di Eropa itu bakal kolaps karena kesulitan keuangan dan permodalan. Hal itu bisa memicu efek domino ke sistem keuangan global. Namun, sebagian pihak yakin Deutsche Bank akan mampu bertahan.

Jacob Funk Kirkegaard dari Peterson Institute, lembaga think tank khusus ekonomi internasional di Washington D.C., Amerika Serikat (AS), melihat kejatuhan harga saham Deutsche Bank sebagai sebuah peringatan marabahaya. Saat ini, sahamnya diperdagangkan seharga US$ 14 per saham, atau terpangkas separuh dalam setahun terakhir dan jauh di bawah titik tertinggi harganya pada 2007 lalu sebesar US$ 160 per saham. 

Hal itu setidaknya menunjukkan kepercayaan investor terhadap bank tersebut sudah semakin luntur. "Bank menderita krisis kepercayaan umum: investor melepas sahamnya dan deposan ingin menarik uangnya," kata Kirkegaard, seperti dilansir Washington Post, Rabu (2/11).

Namun, dia meragukan Pemerintah Jerman akan membiarkan Deutsche Bank ambruk. Saat krisis keuangan, bank itu mungkin akan diselamatkan oleh pemerintah atau bank sentral Eropa. Sebab, Deutsche Bank merupakan bank terbesar di Jerman, dengan lebih dari 100 ribu karyawan di seluruh dunia dan beroperasi di lebih dari 70 negara. Total asetnya sekitar US$ 1,7 triliun.

(Baca: Deutsche Bank Kena Denda Rp 181 Triliun, Picu Kecemasan Krisis)

Dalam sebuah studi terpisah, Ekonom William Cline dari Peterson Institute, menyoroti nilai pasar saham Deutsche Bank yang jauh dari perhitungan bank tersebut. Total nilai pasar sahamnya sekitar US$ 15 miliar, namun Deutsche Bank mengklaim kekayaan bersihnya empat kali lipat lebih besar yaitu US$ 68 miliar.

Ketimpangan nilai itu menunjukkan Deutsche Bank terlalu optimistis terhadap pendapatannya di masa depan, termasuk biaya dan risiko kerugiannya. Padahal, Departemen Kehakiman AS telah menjatuhkan sanksi denda US$ 14 miliar atau sekitar Rp 181,6 triliun karena Deutsche Bank bersalah menjual kredit perumahan murah (subprime mortgage), yang menjadi biang keladi krisis pasar keuangan di Amerika Serikat pada 2008 lalu.

Ancaman denda jumbo itu ternyata bukan satu-satunya masalah yang dihadapi Deutsche Bank. Akhir pekan lalu, media berpengaruh di Jerman, Spiegel, membuat tulisan panjang mengenai berbagai persoalan yang membelit bank kebanggaan Jerman selama 146 tahun tersebut.

Grafik: Laba/Rugi Deutsche Bank 2014-2016

Spiegel menyebut Deutsche Bank sudah seperti salah satu pilar di Jerman, yang sedang berada di ambang kejatuhannya. Pangkal masalahnya sudah muncul sejak lebih tiga dekade silam. Sejak tahun 1980-an, bank tersebut sudah terbelit berbagai permasalahan. Setidaknya ada empat persoalan besar yang menjerat Deutsche Bank.

Pertama, persoalan kultur atau kebudayaan. Deutsche Bank masih terlalu berpegang teguh pada prinsipnya sebagai bank Jerman dengan berbagai nilai panutannya. Persoalannya, bank-bank lain lebih lentur dalam bergerak ketika ekspnasi memasuki pasar global.

Spiegel memberikan suatu gambaran dengan menyebut Deutsche Bank berupaya menguasai dunia, tapi masih enggan menerapkan pemakaian Bahasa Inggris dalam kegiatan operasionalnya.

Deustche Bank memang akhirnya menggagas suatu perubahan kultur, tapi tidak berhasil. Akibatnya, kantor cabangnya di London dan New York kurang mendapat pengawasan dari Kremlin atau kantor pusat Deutsche Bank di Frankfurt, Jerman.