Kenaikan Beban Menekan Laba Unilever Semester I Menjadi Rp 3,6 T

Kenaikan beban penjualan dan promosi menggerus raihan pendapatan Unilever sepanjang semester I 2020 sehingga laba turun 2,11% menjadi Rp 3,6 triliun.
Image title
30 Juli 2020, 14:11
Ilustrasi, logo PT Unilever Indonesia Tbk. Unilever Indonesia mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 2,11% sepanjang semester I 2020.
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi, logo PT Unilever Indonesia Tbk. Unilever Indonesia mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 2,11% sepanjang semester I 2020.

PT Unilever Indonesia Tbk membukukan kinerja kurang positif sepanjang semester I 2020, dengan capaian laba bersih turun 2,11%. Peningkatan seluruh pos beban menjadi penyebab kinerja laba perseroan turun.

Mengutip laporan keuangan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), penjualan bersih perseroan tercatat naik sepanjang semester I 2020. Pada paruh pertama tahun ini, perseroan membukukan angka penjualan sebesar Rp 21,77 triliun, naik 1,47% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penjualan Unilever Indonesia mayoritas disumbang oleh segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh, yang membukukan penjualan Rp 15,1 triliun, naik 1,96% dibandingkan semester I 2019. Disusul oleh segmen makanan dan minuman yang mencatat penjualan senilai Rp 6,67 triliun, naik 0,45%.

Meski demikian, sepanjang semester I 2020 perseroan mencatatkan kenaikan beban secara signifikan. Beban pemasaran dan penjualan misalnya, tercatat meningkat 8,77% menjadi Rp 4,29 triliun, yang mayoritas berasal dari iklan & riset pasar, distribusi, dan promosi.

Sepanjang paruh pertama tahun ini, Unilever Indonesia menanggung beban Iklan dan riset pasar sebesar Rp 1,24 triliun, naik 4,27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kemudian, beban distribusi tercatat naik 7,07% menjadi Rp 1,04 triliun, sementara beban promosi naik 7,68% menjadi Rp 911,01 miliar.

Selain membukukan kenaikan beban pemasaran dan penjualan, perseroan juga mencatatkan kenaikan pada beban umum dan administrasi. Sepanjang semester I 2020, perseroan tercatat mengeluarkan biaya sebesar Rp 2,14 triliun, naik 8,05% dibandingkan semester I 2019.

Manajemen Unilever mengatakan, adanya pandemi virus corona atau Covid-19 meningkatkan ketidakpastian atas operasional perseroan sejak Maret 2020.

"Ketidakpastian ini mempengaruhi posisi keuangan dan hasil operasi perseroan," tulis manajemen Unilever pada laporan keuangan.

Manajemen Unilever Indonesia menjelaskan, terus memantau dampak perkembangan kejadian luar biasa tersebut terhadap aktivitas usaha. Selain itu, manajemen juga telah mengambil langkah-langkah antisipasi yang dapat meminimalisir dampak dari kejadian luar biasa.

Di penghujung semester I 2020 dampak pandemi corona membuat Unilever Indonesiaterpaksa menutup salah satu fasilitas produksinya di Cikarang. Penyebabnya, ada beberapa karyawannya yang terindentifikasi positif Covid-19.

Penghentian operasional dilakukan sejak 26 Juni 2020, menyusul diterimanya laporan mengenai beberapa karyawan di bagian engineering terkonfirmasi positif virus corona. Secara spesifik, karyawan yang terinfeksi Covid-19 bekerja di gedung TBB pabrik Unilever Indonesia, di Cikarang.

“Setelah menerima laporan, kami segera menghubungi dan mengirimkan laporan resmi mengenai situasi tersebut kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, melakukan contact tracing, dan mewajibkan tes PCR seluruh karyawan gedung TBB sebanyak 265 orang,” kata Sancoyo dalam siaran resminya, Kamis (2/7).

Ia menambahkan, penghentian sementara operasional pabrik ini tidak mempengaruhi pasokan produk kepada konsumen. Sebab, stok produk Unilever Indonesia yang ada di gudang milik perusahaan maupun distributor, masih mencukupi.

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Video Pilihan

Artikel Terkait