Stok Beras Terancam Akhir Tahun, Pemerintah Disarankan Impor

Indonesia diperkirakan kekurangan stok beras pada akhir tahun seiring produksi musim panen tahun ini yang diperkirakan turun dibandingkan tahun lalu.
Image title
28 April 2020, 12:28
produksi beras, beras, stok beras, pandemi virus corona, kekurangan stok beras
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.
Ilustrasi. Pada Januari-April 2020, produksi beras diperkirakan turun menjadi 10,84 juta ton.

Indonesia diperkirakan akan kekurangan stok beras pada akhir tahun ini. Pengamat menyarankan pemerintah  mempertimbangkan impor guna mencegah kondisi tersebut.

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori mengatakan, pemerintah dapat menentukan keputusan impor bila telah mengetahui hasil panen saat musim kemarau pada Agustus. "Kalau sudah tahu gambaran panen, Agustus atau September bisa diputuskan perlu impor atau tidak," kata Khudori kepada Katadata.co.id, Senin (27/4).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi beras pada Januari-April 2019 mencapai 13,62 juta ton. Sementara pada Januari-April 2020, produksi beras diperkirakan turun menjadi 10,84 juta ton.

Penurunan produksi terjadi lantaran adanya pergeseran musim panen akibat kemarau panjang pada tahun lalu. Sebagaimana diketahui, musim panen pada tahun ini terjadi pada April-Mei atau mundur sebulan dari tahun lalu.

(Baca: Ancaman Krisis Pangan, Jokowi Minta Ketersediaan Beras Dihitung Cermat)

Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan panen pada musim kemarau tak terganggu. Pemerintah juga perlu memastikan akses sarana produksi seperti bibit, pupuk, hingga air.

"Kalau tidak, ada potensi harga naik dan shock beras terjadi," ujar dia.

Peneliti lembaga kajian ekonomi Institute for Development of Economics and Finance Rusli Abdullah juga mengatakan stok beras diperkirakan defisit pada akhir tahun ini. Impor pun perlu dilakukan pada September mendatang.

"Karena stok beras pada kuartal IV tidak banyak," ujarnya.

Berdasarkan prognosa produksi dan kebutuhan beras oleh Bulog, stok akhir beras pada Mei 2020 diperkirakan mencapai 7,7 juta ton. Sementara, perkiraan produksi mencapai 7,9 juta ton dengan kebutuhan sebesar 7,4 juta ton. Dengan demikian, stok akhir pada Agustus mencapai 8,2 juta ton.

(Baca: Mensos Akui Penyaluran Bansos Tunai di Luar Jabodetabek Terkendala)

Kemudian, produksi pada Agustus diperkirakan mencapai 6,5 juta ton dengan kebutuhan 9,89 juta ton. Bulog pun memperkirakan, stok akhir beras pada Desember mencapai 4,7 juta ton.

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin memperkirakan produksi beras pada musim panen gadu (musim kering pada Agustus-Desember) rata-rata hanya mencapai 35% dari total produksi nasional dalam setahun. Stok beras pada November atau Desember 2020 pun bakal menipis.

"Januari 2021 akan lebih kritis lagi," kata Arifin dalam Webinar Center for Indonesian Policy Studies, Rabu (15/4).

Oleh sebab itu, dia mengimbau pemerintah memaksimalkan panen padi pada musim rendeng atau basah yang berlangsung saat ini. Apalagi ia mencatat, produksi beras 2019 hanya 31,31 juta ton atau turun 7,75% dari produksi 2018 sebesar 33,94 juta ton.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait