RI Siap Masuki Endemi jika Kasus Covid-19 di Bawah 10 Ribu Tiap Pekan

Indonesia siap menuju tatanan baru endemi Covid-19 jika sudah berhasil melakukan pengendalian kasus hingga di bawah 10 ribu per pekan.
Image title
28 September 2021, 21:40
satgas covid-19, endemi, kasus covid-19, wiku adisasmito
Satgas Covid-19
Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menekankan bukan tidak mungkin Indonesia terbebas dari pandemi dengan penerapan Kebijakan yang efektif dan tepat sasaran dari pemerintah, serta masyarakat yang disiplin protokol kesehatan.

Satgas Penanganan Covid-19 mencatat jumlah kasus mingguan per 26 September mencapai 17.250 kasus, turun 20 kali lipat dari puncak kedua pandemi pada Juli yang sempat mencapai lebih dari 50 ribu kasus. Namun, Satgas memastikan jumlah kasus akan terus ditekan hingga di bawah 10 ribu per pekan.

“Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kondisi covid-19 terkendali dan siap untuk berfokus menuju endemi Covid-19,” ujar Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito, Selasa (28/9). 

Wiku mengatakan, jumlah kasus sepekan lalu bahkan lebih rendah dari pertengahan tahun 2020 yang mencapai 18.675 kasus. Pemerintah, menurut dia, telah belajar dari pengalaman 1,5 tahun terakhir dalam menangani Pandemi Covid-19. 

Ia menjelaskan, pemerintah pada tahun lalu memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang kemudian disesuaikan dengan PSBB transisi. PSBB yang saat itu tidak merata menimbulkan tantangan dalam menekan penularan Covid-19 secara kolektif di seluruh wilayah. 

“Memasuki 2021 bertepatan dengan lonjakan kasus pertama, kebijakan PPKM mulai diterapkan belajar dari penerapan PSBB,” katanya. 

PPKM, menurut dia, berhasil menekan kasus Covid-19 saat lonjakan kasus pertama dan bahkan lonjakan kasus kedua yang mencapai lebih dari empat kali lipat kasus dalam lonjakan pertama. Ia mengatakan, ada lima hal yang membuat kebijakan PPKM berhasil menekan lonjakan kasus. 

  1. Kebijakan pembatasan yang berlapis yang mencakup pengaturan mobilitas dalam dan luar negeri, pengaturan aktivitas sosial dan ekonomi, hingga pengaturan  pintu masuk negara.
  2. Pembatasan dilakukan serentak di seluruh Indonesia sehingga berhasil menekan dan menurunkan jumlah kasus secara menyeluruh. 
  3. Komando pengaturan pembatasan dipegang oleh pemerintah pusat yang berkoordinasi dengan pemerintah daerah secara mingguan hingga saat ini. 
  4. Pemerintah menggunakan data kasus dan penunjang lain yang rill sebagai dasar pengambilan kebijakan, seperti penentuan zonasi dan level PPKM.
  5. Pemerintah menerapkan pembatasan pelaku perjalanan luar negeri dengan melakukan screening dan karantina sehingga dapat mencegah varian baru yang berpotensi masuk Indonesia. 

“Penting dipahami bahwa kelima hal ini adalah modal ketahanan bangsa yang sudah mulai terbentuk dalam menghadapi pandemi,” katanya. 

Dengan kebijakan yang efektif dan tepat sasaran dari pemerintah, serta masyarakat yang disiplin menerapkan protokol kesehatan, menurut Wiku, bukan tidak mungkin Indonesia terbebas dari pandemi.

Pemerintah melaporkan tambahan kasus Covid-19 sebanyak 2.057 pada Selasa (28/9). Kenaikan tambahan kasus pada hari ini mengakhiri tren penurunan yang sudah berlangsung selama empat hari.

Tiga provinsi yang menyumbang kasus terbanyak adalah Jawa Tengah (308 kasus), Jawa Barat (2015), dan Jawa Timur (179). Pada periode Minggu-Senin (26-27 September) tidak ada satupun provinsi yang melaporkan kasus di atas 300. Kasus di Jawa Tengah pada Selasa (28/9) naik 66,5% dibandingkan pada hari Senin (27/8). Jawa Tengah juga terus menjadi penyumbang terbesar kasus positif sejak Minggu (26/9).

Di luar Jawa-Bali, lonjakan terjadi di Provinsi Kalimantan Barat dan Riau. Riau melaporkan adanya tambahan kasus sebanyak 89, melonjak 107% dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat adanya tambahan kasus sebanyak 85 pada Selasa (28/9), naik 372,2% dibandingkan hari sebelumnya.

Dengan adanya tambahan kasus sebanyak 2.057 pada hari ini maka total kasus Covid-19 sejak awal pandemi mencapai 4.211.460.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait