AS Setujui Vaksin Booster Moderna dan J&J, Perbolehkan Vaksin Dicampur

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS atau FDA menyebut efektivitas vaksin Covid-19 mungkin berkurang dari waktu ke waktu sehingga membutuhkan vaksin booster.
Image title
21 Oktober 2021, 06:59
vaksin booster, vaksin moderna, johnson & Johnson, vaksin Covid-19
ANTARA FOTO/Fransisco Carolio
AS mencatat 11,2 juta orang telah menerima vaksin booster hingga saat ini.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menyetujui dosis tambahan atau booster vaksin Covid-19 dari Moderna Inc dan Johnson & Johnson. FDA juga mengatakan, orang Amerika dapat memilih jenis vaksin booster yang berbeda dari vaksinasi awal yang mereka terima.

"Ketersediaan booster resmi ini penting untuk perlindungan berkelanjutan terhadap penyakit COVID-19," kata Penjabat Komisaris FDA Janet Woodcock dalam sebuah pernyataan. 

Dia mengatakan bahwa data telah menunjukkan efektivitas vaksin mungkin berkurang dari waktu ke waktu di beberapa populasi yang divaksinasi penuh. Adapun keputusan untuk menyetujui vaksin moderna dan J&J membuka jalan bagi jutaan orang di Amerika Serikat mendapatkan perlindungan tambahan.

Badan tersebut sebelumnya mengizinkan vaksin  booster COVID-19 Pfizer Inc (PFE.N) yang dikembangkan dengan mitra Jerman BioNTech SE. Vaksin booster dalam enam bulan pertama sejak disetujui diprioritaskan untuk orang berusia 65 tahun ke atas, mereka yang berisiko penyakit parah, dan mereka yang berpotensi tinggi terpapar virus melalui pekerjaan mereka.

Pekan lalu, sebuah panel penasehat FDA memberikan suara untuk merekomendasikan putaran ketiga suntikan vaksin Moderna untuk kelompok yang sama. Booster Moderna adalah setengah dari kekuatan suntikan yang diberikan untuk rangkaian awal inokulasi.

 

Panel juga merekomendasikan suntikan kedua vaksin J&J untuk semua penerima. Berbeda dengan vaksin lain yang menggunakan dua dosis, J&J hanya memerlukan satu dosis. Adapun vaksinasi booster J&J satu dosis setidaknya dua bulan setelah menerima yang pertama.

Pejabat FDA telah menyarankan minggu lalu untuk mempertimbangkan agar  suntikan booster vaksin Pfizer/BioNTech juga diberikan pada orang yang lebih muda, mencakup 40 tahun ke atas. Saran diberikan berdasarkan data dari Israel, di mana suntikan booster Pfizer telah diberikan secara luas.

Namun, FDA tidak menurunkan rentang usia untuk penerima vaksi n booster pada hari Rabu, tetapi mengatakan bahwa menilai manfaat dan risiko penggunaan booster yang lebih luas dan berencana untuk memperbarui publik dalam beberapa minggu mendatang. 

FDA dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS berada di bawah tekanan untuk mengizinkan vaksin booster, setelah Gedung Putih mengumumkan rencana pada Agustus untuk memperluas vaksin booster. 

Pertemuan panel penasihat mencakup presentasi data tentang pencampuran vaksin dari studi Institut Kesehatan Nasional AS dengan 458 peserta menerima beberapa kombinasi suntikan Pfizer/BioNTech, Moderna dan J&J.

Data menunjukkan bahwa orang yang awalnya mendapat vaksin COVID-19 J&J memiliki respons kekebalan yang lebih kuat ketika dikuatkan dengan suntikan Pfizer atau Moderna. Dana juga menunjukkan suntikan penguat "mencampur dan mencocokkan" dari berbagai jenis aman pada orang dewasa.

Banyak negara termasuk Inggris telah mendukung strategi mix-and-match untuk vaksin AstraZeneca Plc (AZN.L) yang digunakan secara luas. Vaksin booster kemungkinan akan menyesuaikan dengan eknologi vektor virus yang serupa dengan vaksin J&J.

Komite penasihat CDC pada hari Kamis akan membuat rekomendasinya tentang kelompok orang mana yang harus mendapatkan booster Moderna dan J&J. Hingga saat ini, AS mencatat 11,2 juta orang  telah menerima dosis booster.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait