Ratusan Penembakan Massal Terjadi di AS Setiap Tahun, Apa Penyebabnya?

Penembakan di Texas pada Selasa (25/4) menewaskan 19 siswa SD dan dua guru. Amerika Serikat mencatat, terdapat 213 penembakan massal yang sudah terjadi sepanjang tahun ini.
Image title
26 Mei 2022, 16:02
penembakan di texas, penembakan massal, penembakan di amerika, senjata di amerika
ANTARA FOTO/REUTERS/Nuri Vallbona/WSJ/cf
Warga berkumpul di Sekolah Dasar Robb, lokasi penembakan masal di Uvalde, Texas, Amerika Serikat, Rabu (25/5/2022).

Hanya selang waktu 10 hari sejak penembakan massal di sebuah supermarket di Buffalo, New York, insiden serupa kembali terjadi di sebuah sekolah dasar di Texas, Amerika Serikat. Penembakan di Texas yang dilakukan seorang pemuda berusia 18 tahun pada Selasa (24/5) menewaskan 19 siswa SD dan dua guru. 

Berdasarkan arsip kekerasan bersenjata AS, sudah ada 213 penembakan massal pada tahun ini. Penembakan massal didefinisikan sebaga insiden yang menyebabkan sedikitnya empat orang tertembak atau terbunuh. Data juga menunjukkan terdapat sebanyak 692 penembakan massal pada 2021 dan 610 penembakan pada 2022. 

Pada insiden penembakan di Buffalo yang juga terjadi pada bulan ini, terdapat 10 orang meninggal dunia. Kebanyakan dari mereka adalah ras Afrika-Amerika. 

Presiden Joe Biden menyampaikan belasungkawa kepada Komunitas Uvalde, Texas atas tragedi ini dan menuntut tindakan berarti untuk mencegah insiden nahas serupa kembali terjadi. Kongres adalah penentunya.

Advertisement

“Mengapa kita rela hidup dengan pembantaian ini? Mengapa kita terus membiarkan ini terjadi? Sudah waktunya untuk mengubah rasa sakit ini menjadi tindakan,” kata Biden di Gedung Putih pada Selasa (25/4).

Meskipun ratusan penembakan massal terjadi di Amerika setiap tahun, Kongres yang terbagi dua dalam sistem politik AS, yakni DPR dan senat, telah berulang kali gagal meloloskan undang-undang pengendalian senjata utama. Rintangan untuk memberlakukan undang-undang senjata yang lebih ketat di AS sangat banyak dan signifikan. Meski demikian, para aktivis mengatakan mereka tidak akan menyerah sampai perubahan dibuat.

Pendukung pengendalian senjata telah menguraikan rencana yang luas dan spesifik untuk menurunkan jumlah kematian yang disebabkan oleh senjata api di AS. Kebijakan tersebut, termasuk mewajibkan pemeriksaan latar belakang untuk semua pembelian senjata dan memberlakukan masa tunggu setelah seseorang membeli senjata api.

Para advokat juga menyerukan untuk memperluas pembatasan pada orang-orang yang dapat memperoleh senjata secara legal. Mereka yang memiliki catatan pernah bertindak kasar saat berkencan, dihukum terkait tindak kebencian, dan orang-orang dengan penyakit mental yang menimbulkan risiko keamanan harus dilarang membeli senjata api. 

Beberapa telah mengusulkan pelarangan pembelian senjata oleh orang-orang di bawah 21 tahun, yang mungkin dapat mencegah penembak berusia 18 tahun di Uvalde mendapatkan senjatanya. Beberapa negara bagian telah memberlakukan undang-undang senjata yang lebih ketat, tetapi undang-undang federal akan memperkuat pembatasan secara nasional.

Ada dukungan luas di AS untuk kebijakan tertentu yang diperjuangkan oleh pendukung pengendalian senjata. Menurut survei Morning Consult/Politico yang dilakukan tahun lalu, 84% pemilih Amerika mendukung pemeriksaan latar belakang universal untuk pembelian senjata.

Namun demikian, pendapat yang lebih bervariasi dikemukakan oleh orang-orang Amerika ketika ditanya tentang pemikiran mereka tentang undang-undang senjata yang lebih ketat secara umum. Sebuah jajak pendapat November yang dilakukan oleh Gallup menemukan bahwa 52% orang Amerika mendukung kontrol senjata yang lebih ketat, yang menandai peringkat terendah pada pertanyaan serupa sejak 2014. 

Dukungan untuk larangan pistol juga mencapai titik terendah baru pada tahun 2021, dengan hanya 19% orang Amerika yang memberi tahu Gallup bahwa mereka akan mendukung kebijakan semacam itu. Beberapa keraguan itu mungkin berasal dari fakta bahwa puluhan juta orang Amerika memiliki senjata sendiri. 

Empat dari 10 orang Amerika tinggal di rumah dengan senjata, sedangkan 30% mengatakan mereka memilikinya secara pribadi, menurut survei tahun 2021 oleh Pew Research Center.

 

Upaya untuk memberlakukan undang-undang senjata yang lebih ketat bukan tak pernah diusulkan oleh Kongres. Partai Demokrat telah berulang kali berupaya  memperkuat undang-undang senjata yang dapat membantu menurunkan jumlah penembakan massal di Amerika. 

Kongres, terutama mencoba meloloskan RUU kompromi untuk memperluas pemeriksaan latar belakang pada tahun 2013, beberapa bulan setelah penembakan yang menghancurkan di sekolah dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut. Namun demikian, RUU itu gagal mengatasi filibuster Senat, karena sebagian besar Republikan dan segelintir Demokrat menentang undang-undang tersebut.

Setelah RUU itu dikalahkan, Presiden Barack Obama menyampaikan pidato berapi-api menyalahkan kegagalan Asosiasi Senapan Nasional yang menentang keras undang-undang tersebut dan bersumpah untuk berkampanye melawan senator mana pun yang mendukungnya.

"Alih-alih mendukung kompromi ini, lobi senjata dan sekutunya dengan sengaja berbohong tentang RUU itu. Tapi kita bisa berbuat lebih banyak jika Kongres menyatukan tindakannya,” kata Obama saat itu.

DPR yang dikuasai Demokrat telah meloloskan RUU untuk memperluas pemeriksaan latar belakang ke semua penjualan atau transfer senjata api dan menutup apa yang disebut "celah Charleston". Celah itu, yang akan meningkatkan jumlah waktu yang harus ditunggu oleh penjual senjata berlisensi untuk menerima pemeriksaan latar belakang yang lengkap sebelum mentransfer senjata ke pembeli yang tidak berlisensi.

Namun demikian, RUU yang disahkan DPR itu saat ini memiliki peluang yang sangat kecil untuk lolos di Senat yang terbagi rata antara Demokrat dan Republik. Senator Republik kemungkinan besar akan melakukan filibuster terhadap undang-undang pengendalian senjata yang diusulkan dan Demokrat tidak memiliki 60 suara yang diperlukan untuk mengajukan RUU tersebut. 

Senator Demokrat Joe Manchin juga menjelaskan pada hari Selasa bahwa dia tidak akan mendukung amandemen filibuster untuk meloloskan undang-undang pengendalian senjata, yang berarti Demokrat tidak memiliki suara untuk membuat aturan tersebut.

Mengakui kenyataan ini, pemimpin mayoritas Senat Chuck Schumer, mengatakan pada hari Rabu bahwa tidak mungkin majelis tinggi akan segera memberikan suara pada RUU yang disahkan DPR. “Saya percaya bahwa suara pertanggungjawaban itu penting. Namun, orang-orang Amerika sebenarnya sudah sadar di mana senat akan berpihak,” katanya. 

Meski demikian, menurut dia, tidak berarti Demokrat menyerah pada upaya mereka untuk memperkuat undang-undang senjata. Senator Chris Murphy dari Connecticut, yang mewakili komunitas Sandy Hook dan dengan keras mengkritik kelambanan kongres terhadap pengendalian senjata, mengatakan pemilih memiliki kesempatan pada November untuk menggulingkan Partai Republik yang menentang reformasi.

"Saya akan mencoba sepanjang hari-hari ini untuk mencoba menemukan kompromi, tetapi ini pada akhirnya terserah pemilih," kata Murphy kepada CNN, Rabu (25/5).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait