Jakarta Tak Masuk 20 Besar Kota dengan Udara Terburuk Pagi Ini

Nadya Zahira
20 November 2023, 06:55
kualitas udara, jakarta, udara
ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/rwa.
Foto udara pemukiman penduduk tertutup polusi udara di Jakarta, Jumat (6/10/2023). Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada Jumat (6/10/2023), indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 133 atau masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, dengan polusi udara PM2,5 dan nilai konsentrasi 48 mikrogram per meter kubik.

Kualitas udara Provinsi DKI Jakarta masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif pagi ini, Senin (20/11), dengan indeks mencapai 106 berdasarkan data situs pemantauan kualitas udara, IQAir. Namun, kualitas udara di Jakarta saat ini membaik dan tidak masuk dalam urutan 20 besar sebagai kota dengan udara terburuk di dunia. 

Adapun kualitas udara Jakarta merupakan yang  terburuk ke-22 di dunia berdasarkan dari data situs pemantau kualitas udara IQAir. 

IQAir menunjukkan, konsentrasi PM2.5 di Jakarta saat ini 1,2 kali di atas nilai panduan kualitas udara tahunan WHO pada pukul 06.15 WIB. PM2.5 atau particulate matter 2.5 adalah partikel udara yang berdiameter lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 µm (mikrometer).

Partikel itu memiliki risiko kesehatan paling besar di antara pengukuran polusi udara lainnya. PM2.5 dapat bersumber dari asap kendaraan bermotor, hasil pembakaran pembangkit listrik, proses industri, asap pembakaran, asap rokok.

PM2.5 juga dapat terbentuk dari reaksi kimia polutan di udara atau atmosfer, di antaranya sulfur dioksida, nitrogen oksida, ammonia, black carbon, debu mineral, yang bereaksi dengan air dan materi organik lainnya.

Sementara itu, suhu udara di Jakarta pagi ini 26 derajat celcius dengan kelembaban 84%. Gerak angin sembilan kilometer per jam, dan tekanan udara 1010 milibar atau mb.

El Nino Berlanjut hingga Februari 2024

Kualitas udara antara lain dipengaruhi oleh iklim, termasuk fenomena El Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa El Nino masih akan berlanjut hingga Februari 2024. 

"BMKG dan beberapa Pusat Iklim Dunia memprediksi El Nino terus bertahan pada level moderat hingga periode Desember 2023-Januari-Februari 2024, sementara IOD Positif akan terus bertahan hingga akhir tahun 2023," ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam keterangan tertulis, Kamis (2/11).

Dia mengingatkan dampak lanjutan dari kombinasi El Nino dan IOD positif yang menjadi pemicu kekeringan di Indonesia. Dampak lanjutan tersebut mempengaruhi sejumlah sektor, yaitu:

1. Pertanian

Dwikorita mengatakan, El Nino dapat mengurangi produksi tanaman pangan. Pengurangan produksi akibat terganggunya siklus masa tanam, gagal panen, dan kurangnya ketahanan jenis tanaman atau penyebaran hama yang aktif pada kondisi kering.

2. Sumber daya air

Dwikorita mengatakan, situasi ini berakibat pada berkurangnya sumber daya air bagi kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya.

3. Kehutanan

Dia mengatakan, El Nino juga menyebabkan sejumlah hutan dan lahan terbakar. Kebakaran juga menyebabkan kualitas udara menjadi buruk.

4. Perdagangan

El Nino berdampak pada pangan karena gagal panen menyebabkan suplai bahan pokok menjadi berkurang. Hal itu mengakibatkan sejumlah harga bahan pokok naik.

5. Energi

El Nino juga berdampak pada berkurangnya sumber daya negeri khususnya dari Pembangkit Listrik Tenaga Air.

6. Kesehatan

El Nino meningkatkan risiko kesehatan karena berkaitan dengan sanitasi dan ketersediaan air bersih untuk dikonsumsi. Bagi daerah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan, kondisi ini juga dapat berakibat pada polusi udara dan memicu terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nadya Zahira
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...