Bank Mandiri Tambah Restrukturisasi Kredit demi Jaga NPL di Level 3,6%

Bank Mandiri memperkirakan tambahan kredit yang direstrukturisasi akan mencapai Rp 20 triliun hingga akhir tahun ini.
Image title
26 Agustus 2020, 17:46
bank mandiri, kredit macet, restrukturisasi kredit
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
Ilustrasi. Bank Mandiri membukukan laba bersih pada semester I 2020 sebesar Rp 10,29 triliun, turun 23,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

PT Bank Mandiri Tbk memperkirakan kualitas kredit perseroan akan turun signifikan pada tahun ini akibat pandemi Covid-19. Kendati demikian, perusahaan akan menjaga rasio kredit bermasalah atau non performing loan  di level 3,4% hingga 3,6% dengan melanjutkan program restrukturisasi kredit.

Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin mengatakan, Mandiri akan menjaga NPL akhir 2020 itu di sekitar NPL semester I 2020 di level 3,28%. Pada akhir tahun lalu, rasio NPL Bank Mandiri berada di level 2,33%.

"Strateginya, kami akan terus melanjutkan program restrukturisasi kepada debitur terdampak," katanya dalam konferensi pers virtual, Rabu (26/8).

Bank Mandiri hingga kini telah melakukan restrukturisasi kredit dengan nilai mencapai Rp 130 triliun. Pengajuan restrukturisasi kredit saat ini sudah mulai melandai dibandingkan dengan saat pemberlakuan pembatasan kegiatan di berbagai wilayah Indonesia karena pandemi.

Hingga akhir tahun, ia memperkirakan tambahan kredit yang direstrukturisasi akan mencapai Rp 20 triliun. Menurut dia, sebagian besar dari debitur Bank Mandiri yang terdampak pandemi, sudah direstrukturisasi

"Mudah-mudahan kondisi terus membaik sehingga tidak terjadi additional wave yang bisa berdampak pada kelangsungan usaha debitur tersebut," kata Siddik.

Ia menjelaskan, kenaikan NPL pada semester pertama tahun ini terutama disebabkan oleh kredit seret di segmen wholesale alias korporasi. Ada beberapa debitur besar yang sebelum pandemi Covid-19 memang sudah bermasalah atau kurang sehat Sebelum pandemi terjadi, Bank Mandiri masih memperkirakan debitur itu akan bisa melangsungkan usahanya dan membayar kewajibannya, tetapi perkiraan tersebut meleset.

Alhasil, beberapa debitur besar Bank Mandiri tersebut harus mengalami penurunan status kredit. "Ditambah lagi, nasabah tersebut pun tidak bisa kami klasifikasikan ke dalam restrukturisasi under POJK 11," kata Siddik.

Pada semester pertama tahun ini, Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar  Rp 10,29 triliun, turun 23,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan laba disebabkan karena sepanjang semester I 2020 perseroan menerapkan strategi konservatif.

"Untuk mengantisipasi potensi ketidakpastian ekonomi, kami juga membangun pencadangan untuk memastikan terjaganya kualitas aset. Per Juni 2020, rasio coverage cadangan kerugian penurunan nilai secara konsolidasi berada di kisaran 195,5%,” kata Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar dalam virtual conference, Rabu (19/8).

Ia menjelaskan meski pencadangan naik, Bank Mandiri memastikan likuiditas berada pada level aman dan dapat mendukung skenario ekspansi. Hal ini didukung pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 15,82% menjadi Rp 976,6 triliun, di mana komposisi dana murah mencapai 61,9%.

Dengan beberapa strategi tersebut, Royke cukup bersyukur Bank Mandiri mampu menjaga kinerja dengan tetap membukukan laba meski turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari sisi aset, Bank Mandiri secara konsolidasi mencatatkan pertumbuhan 10,02% menjadi Rp 1.359,4 triliun.

 

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait