PSBB Pukul Bisnis Retail dan Restoran, Dampaknya ke Ekonomi Kuartal IV

PSBB yang kembali diperketat dan kekhawatiran konsumen terhadap penyebaran Covid-19 akan menekan usaha ritel dan restoran.
Agatha Olivia Victoria
24 September 2020, 13:34
psbb, retail, restoran, pandemi corona
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/aww.
Ilustrasi restoran. Ekonomi pada kuartal IV diperkirakan masih terkontraksi.

Sektor retail dan restoran masih akan tertekan hingga kuartal keempat tahun ini akibat kebijakan Pemda DKI Jakarta yang kembali memperketat pembatasan sosial berskala besar. Kondisi ini pun akan berdampak pada kondisi perekonomian secara keseluruhan yang berpotensi terkontraksi hingga 3% pada paruh kedua tahun ini. 

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan perekonomian pada kuartal tiga dan empat dapat terkontraksi hingga 3% akibat PSBB Jilid II. PSBB dan kekhawatiran konsumen atas penyebaran Covid-19 menekan usaha ritel, termasuk  jasa makanan dan minuman.

"Sejumlah daerah memperpanjang masa PSBB transisi sementara DKI Jakarta dengan kenaikan kasus per hari Covid-19 kembali menerapkan PSBB jilid II, meski dalam skala yang lebih kecil," tulis Andry dalam keterangan resminya, Jakarta, Kamis (24/9).

Hasil survei Mandiri Institute menunjukkan bahwa kunjungan ke pusat belanja pada bulan September sekitar 57% dari normal, angka ini sama dengan kunjungan di bulan Agustus. Namun demikian terdapat variasi angka kunjungan antar kota.

Angka kunjungan ke pusat belanja pada bulan September tertinggi di di DKI Jakarta sebesar 63%, naik dari bulan Agustus yang mencapai 57%. Menurut Andry, kenaikan angka kunjungan di DKI tampaknya dipengaruhi oleh rencana Pemda DKI untuk memberlakukan PSBB jilid II. Hal ini memicu masyarakat untuk mengunjungi pusat perbelanjaan sebagai bentuk antisipasi. Sementara itu, penurunan angka kunjungan pusat belanja terjadi di kota Makassar yang turun dari 66% menjadi 58% pada bulan September.

Tingkat kunjungan ke restoran sempat mengalami kenaikan tipis pada September sebelum PSBB II di DKI Jakarta. "Pada bulan September sebelum PSBB II DKI, tingkat kunjungan ke restoran mencapai 53% dari situasi normal, naik tipis dari 52% di bulan Agustus," ujar dia.

Dampak dari PSBB II pun langsung terasa di sektor jasa makanan dan minuman. Dengan mengambil sampel restoran yang sama, Andry menyebut PSBB II menekan angka kunjungan ke restoran di DKI Jakarta hingga menjadi 19% dari kunjungan normal.

Hal yang menarik adalah kunjungan ke restoran ke daerah sekitar Depok, Tangerang, dan Tangerang Selatan dalam satu minggu justru meningkat setelah PSBB jilid II. Angka kunjungan ke restoran di Tangerang Selatan naik hingga 59% pasca PSBB II.

Panel Ahli Katadata Insight Center Damhuri Nasution mengatakan penambahan kasus Covod-19 di DKI belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, bahkan tren semakin meningkat sejak 10 hari setelah penerapan. "Ini akan memperbesar peluang PSBB jilid II berlanjut ke kuartal IV," kata Damhuri kepada Katadata.co.id, Kamis (24/9).

Berdasarkan laman resmi corona.jakarta.go.id, dalam 10 hari terakhir tambahan kasus positif Covid-19 menyentuh angka seribu per harinya selama delapan hari. Dengan demikian kasus positif corona bertambah sebanyak 11.067 kasus dalam periode 10 hari PSBB jilid II. Saat ini, total kasus positif corona di DKI tercatat 65.687.

Maka dari itu, Damhuri menilai perpanjangan PSBB tersebut berpotensi menekan aktivitas ekonomi pada kuartal keempat. Peluang ekonomi kembali terkontraksi pada kuartal terakhir tahun ini pu makin besar. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut perekonomian pada tiga bulan terakhir ini berpotensi negatif hingga 2,9%. Meski konsumsi pemerintah diproyeksi naik hingga 17% pada periode tersebut, komponen pertumbuhan ekonomi lainnya masih tercatat negatif.

Konsumsi rumah tangga diramal terkontraksi 1,5% hingga 3%. Pembentukan modal tetap bruto yang menjadi indikator investasi diperkirakan Sri Mulyani terkontraksi di kisaran 8,5% hingga minus 6,6%.

Investasi sedikit lebih baik meski masih lemah, tercermin dari indikator aktivitas bangunan, impor barang modal, dan penjualan kendaraan niaga. Kemudian, ekspor diproyeksikan masih akan terkontraksi 8,7% hingga 13,9%. Impor pun kemungkinan minus 16% hingga 26,8%.

Secara keseluruhan, Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini akan negatif 0,6% hingga 1,7%. Ini karena ada kemungkinan pertumbuhan negatif masih akan berlangsung pada kuartal IV 2020. "Namun akan kami usahakan bisa mendekati positif atau 0%," ujar Sri Mulyani dalam konferensi virtual, Selasa (22/9).

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait