Ayunan Rupiah di Tengah Kepastian Vaksinasi dan Banjir Stimulus Global

Sentimen perkembangan pandemi Covid-19, efektivitas vaksin, stimulus fiskal dan moneter berbagai negara, dan berbagai perkembangan geopolitik akan mewarnai pergerakan rupiah pada tahun ini.
Agatha Olivia Victoria
5 Januari 2021, 19:29
rupiah, nilai tukar, pandemi corona, rupiah menguat
123RF.com/Sembodo Tioss Halala
Ilustrasi. Rupiah dibuka menguat pada perdagangan hari pertama 2021 di posisi Rp 13.918 per dolar AS.

Memasuki awal 2021, modal asing kembali mengalir deras ke pasar keuangan Indonesia membawa nilai tukar rupiah menguat hingga di bawah Rp 14.000 per dolar AS. Gejolak masih berpotensi terjadi seiring pandemi yang belum berakhir, efektivitas vaksinasi, hingga stimulus besar yang siap digelontorkan Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya.

Mengutip data Bloomberg, rupiah pada tahun lalu ditutup di posisi Rp 14.050 per dolar AS, melemah 98 poin atau 0,7% dari posisi akhir 2019 Rp 13.952 per dolar AS. Sementara berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dolar Rate, rupiah pada hari terakhir perdagangan 2020 berada di posisi Rp 14.105 per dolar AS, melemah 204 poin dibandingkan akhir 2019 sebesar Rp 13.901 per dolar AS.

Berdasarkan catatan Katadata.co.id, volatilitas rupiah pada sepanjang tahun lalu cukup tinggi terutama akibat sentimen pandemi Covid-19. Sebelum pandemi melanda Tanah Air, rupiah sempat menguat ke posisi Rp 13.583 per dolar AS pada Januari, tetapi jatuh hingga ke level 16.575 per dolar AS pada Maret.

Sementara pada hari pertama perdagangan tahun ini, rupiah dibuka melesat ke posisi Rp 13.918 per dolar AS dan berakhir di posisi Rp 13.895 per dolar AS. Namun, bergerak melemah ke posisi Rp 13.915 per dolar AS pada penutupan hari ini (5/1). 

Advertisement

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan nilai tukar rupiah diperdagangkan menguat terhadap dolar AS pada awal perdagangan 2021 karena pelemahan mata uang Negeri Paman Sam terhadap mata uang utama, terindikasi dari indeks dolar AS yang melemah 0,5%.

Pelemahan dolar AS terhadap mata uang utama dunia dipengaruhi oleh optimisme terhadap pemulihan ekonomi global pada tahun 2021. "Sehingga ini kemudian mendorong penurunan permintaan aset safe haven termasuk dolar AS dan US Treasury," kata Josua kepada Katadata.co.id, Selasa (5/1).

Imbal hasil alias yield US Treasury dengan tenor 10 tahun naik sekitar 2 basis poin menjadi 0,93%. Peningkatan sejalan dengan harapan penanganan Covid-19 di berbagai negara dunia mengingat vaksinasi yang mulai dijalankan di sebagian besar negara saat ini, meskipun jumlah kasus virus corona di berbagai negara masih terus meningkat.

Josua menilai, sentimen yang mendukung tersebut mendorong permintaan aset keuangan yang lebih berisiko, termasuk aset keuangan berdenominasi rupiah. Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan hari pertama 2021 menguat 2,1% atau 126 poin ke level 6.105, sedangkan yield Surat Berharga Negara dengan tenor 10 tahun tercatat turun 2 bps menjadi 5,87%. IHSG pun kembali menguat pada perdagangan hari ini sebesar 0,53% ke posisi 6.137. 

Beberapa faktor fundamental yang mempengaruhi penguatan rupiah, antara lain daya tarik aset keuangan rupiah terutama SBN yang tetap menarik. "Apalagi, mempertimbangkan selisih real yield dari risk free asset Indonesia yang sangat bersaing jika dibandingkan dengan aset keuangan negara berkembang lainnya atau bahkan negara-negara yang memiliki sovereign rating yang serupa," kata dia.

Selain itu, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mengalami pemulihan relatif lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya mendorong differential growth yang tetap menarik. Dengan demikian, investor asing diramal kembali masuk ke pasar keuangan negara berkembang termasuk pasar keuangan domestik pada tahun ini.

Pada tahun 2020 lalu, investor asing membukukan net sell di pasar saham sekitar US$ 3,22 miliar sementara kepemilikan investor asing pada SBN menurun sekitar US$ 4,75 miliar. Dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang baik dengan prospek pemulihan ekonomi tahun 2021 yang diperkirakan akan terus berlanjut, maka aliran modal asing akan masuk ke pasar keuangan domestik. Hal tersebut akan mendorong suplai valas yang pada akhirnya menyebabkan terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah pada tahun ini.

Direktur Riset Center Of Reform on Economics Piter Abdullah Redjalam memproyeksi mata uang Garuda akan menguat dalam rentang Rp 13.500-13.750 per dolar AS pada tahun 2021. Faktor pendorong penguatan yakni utamanya berasal dari likuiditas global yang berlimpah. Di sisi lain, suku bunga global saat ini juga mendekati nol. "Ini yang membuat yield SBN nampak menarik," ujar Piter kepada Katadata.co.id, Selasa (5/1).

Harga komoditas global yang cenderung meningkat juga akan membantu penguatan kurs Garuda tahun ini. Faktor lainnya yaitu keyakinan pandemi berakhir pada 2021 yang akan memicu pulihnya perekonomian global.

Dunia Usaha Butuh Stabilitas

Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai rupiah yang menguat pada awal tahun ini ditopang oleh sentimen dari perkembangan tambahan stimulus di AS. Stimulus yang besar akan membanjiri pasar likuiditas global dan mengerek aset berisiko termasuk rupiah. 

"Pada kuartal pertama ini, modal asing kemungkinan akan mengalir deras sehingga positif untuk rupiah, tapi kemungkinan rupiah overshoot tetap ada," ujar David kepada Katadata.co.id. 

Meski rupiah berpotensi menguat masih terdapat sejumlah sentimen negatiif yang dapat mempengaruhi pergerakan rupiah, terutama terkait perkembangan pandemi Covid-19 dan efektivitas vaksin. David menilai BI perlu menjaga stabilitas rupiah agar tak terlalu menguat atau melemah. 

"Perlu peran BI agar rupiah tidak terlalu fluktuatif, karena sektor riil sebenarnya yang paling utama adalah stabilitas. Kalau rupiah tidak stabil, mereka akan ragu untuk berekspansi karena perhitungannya akan meleset," katanya. 

Menurut dia, fundamental rupiah saat ini berada pada rentang Rp 14.000 hingga Rp 14.500 per dolar AS. "Namun dalam waktu-waktu tertentu, rupiah berpeluang menguat ke Rp 13.500 per dolar AS. 

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani menjelaskan dunia usaha sangat fleksibel dalam merespons pergerakan rupiah. Namun, menurut dia, stabilitas rupiah tetap dibutuhkan agar perencanaan yang dibuat tak melenceng. 

"Yang diinginkan dunia usaha sebenarnya adalah stabilitas agar seluruh perencanaan yang dibuat akurat," ujar Hariyadi kepada Katadata.co.id. Selasa (5/1).

Ia berharap rupiah sepanjang tahun ini bergerak stabil pada kisaran Rp 14.000 per dolar AS. "Dunia usaha sebenarnya sangat fleksibel dan dapat menyesuaikan, tetapi semakin stabil akan semakin baik," katanya.

Gubernur BI Perry Warjiyo pada awal bulan lalu menyebut nilai tukar rupiah yang saat itu berada di kisaran Rp 14.000 per dolar AS masih berada di bawah fundamentalnya. Ia optimistis rupiah pada 2021 akan bergerak menguat. "Rupiah secara fundamental masih undervalue dan berpotensi menguat dengan cadangan devisa yang meningkat, stabilitas eksternal dan sistem keuangan yang terjaga," katanya awal bulan lalu. 

Sementara itu, pemerintah dalam APBN 2021 mematok nilai tukar rupiah sebesar Rp 14.600 per dolar AS. Saat APBN 2021 disahkan pada 29 September, rupiah berada di posisi Rp 14.918 per dolar AS.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait