Harga Cabai dan Minyak Goreng Naik, BI Ramal Inflasi 0,1% pada Oktober

Inflasi pada Oktober disumbang kenaikan harga cabai merah dan minyak goreng dengan andil 0,07% dan 0,04%.
Image title
29 Oktober 2021, 19:26
inflasi, bank indonesia, harga cabai, harga minyak goreng
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/wsj.
Ilustrasi.Harga cabai merah besar naik 22% dalam sebulan terakhir menjadi Rp 38.511 per kg.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan harga-harga barang dan jasa akan kembali naik setelah bulan lalu mencatatkan penurunan atau deflasi. Bank sentral memprediksi Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober mengalami inflasi 0,10% secara month-to-month (mtm) didorong kenaikan pada harga komoditas cabai merah dan minyak goreng.

"Berdasarkan survei pemantauan harga pada minggu keempat Oktober 2021, perkembangan harga pada bulan ini masih terkendali dan diperkirakan inflasi sebesar 0,10% secara mtm," kata Direktur Kepala Grup Departemen Komunikasi BI Muhamad Nur, Jumat (29/10).

BI juga memperkirakan kenaikan inflasi secara tahun kalender sebesar 0,91% dan secara tahunan sebesar 1,64%. Inflasi bulan ini terutama disumbang inflasi pada cabai merah 0,07%. Selain itu minyak goreng juga menyumbangkan inflasi sebesar 0,04%, rokok kretek filter sebesar 0,02%, serta cabai rawit, daging ayam ras, dan angkutan udara masing-masing sebesar 0,01%.

Berdasarkan data infopangan.jakarta.go.id, kenaikan harga cabai merah terjadi pada semua jenis. Harga cabai merah besar naik 22% dalam sebulan terakhir menjadi Rp 38.511 per kg. Harga cabai merah keriting juga naik dengan besaran yang sama menjadi Rp 36.043 per kg. Sementara minyak goreng melonjak 11% menjadi Rp 17.628 per kg. Kenaikan signifikan pada harga minyak goreng mulai terjadi pada pekan terakhir bulan ini. 

BI juga mencatat beberapa komoditas mengalami penurunan harga atau deflasi. Ini antara lain terjadi pada telur ayam ras dan tomat masing-masing sebesar 0,03% secara mtm, serta bawang merah, bayam, kangkung, sawi hijau, dan emas perhiasan masing-masing 0,01%.

Harga telur ayam ras turun 1% menjadi Rp 19.957 per Kg. Kendati demikian harga telur ayam sebenanrya sudah turun signifikan hingga menyentuh Rp 19,372 per Kg pada akhir pekan lalu, tetapi mulai merangkak naik memasuki pekan ini. Sedangkan harga tomat terpantau Rp 13.553 per Kg pada hari ini, jatuh 25% dalam sebulan terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan IHK September deflasi 0,04% secara mtm. Ini merupakan deflasi kedua setelah deflasi dalam 0,16% pada Juli lalu. Harga-harga bahkan berhasil inflasi pada Juli dan Agustus sekalipun daya beli masyarakat terpukul akibat pemberlakuan PPKM Darurat dan PPKM level 1-4.

Meski demikian, penurunan harga-harga pada bulan lalu hanya terjadi pada jenis komoditas bergejolak yang deflasi 0,88%. Hal ini didorong deflasi pada komoditas telur ayam ras 0,07%, serta cabai rawit dan bawang merah masing-masing deflasi 0,03%.

Sementara itu, komponen inti yang sering menjadi pertimbangan utama untuk melihat kondisi daya beli masyarakat, tercatat inflasi sebesar 0,13%. Selain itu komponen harga diatur pemerintah juga mencatat inflasi 0,14%. Pasar tampaknya mulai menantikan arah pembalikan IHK kuartal terakhir tahun ini setelah deflasi bulan lalu, ini seiring tren musiman menuju akhir tahun dimana daya beli naik karena ada libur natal dan tahun baru.

Sementara BI meramalkan sampai akhir tahun inflasi masih akan rendah. Inflasi tahunan diperkirakan berada di bawah titik tengah kisaran sasarannya 3,0±1%, dan terjaga dalam kisaran sasaran 3,0±1% pada 2022. 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait