Rupiah Menguat ke 14.326 per US$ Meski The Fed Percepat Tapering Off

Rupiah hari ini diramal menguat di rentang Rp 14.300-14.280 per dolar AS meski The Fed mengumumkan rencana percepatan tapering off.
Image title
16 Desember 2021, 09:59
rupiah, rupiah hari ini, the fed, tapering off
Adi Maulana Ibrahim |Katadata
Ilustrasi. Rupiah pagi ini menguat meski The Fed mengumumkan percepatan tapering off dan potensi kenaikan bunga acuan tahun depan.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,01% ke level Rp 14.332 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Rupiah menguat meski The Fed mengumumkan percepatan tapering off dan potensi kenaikan bunga acuan tahun depan.

Mengutip Bloomberg, rupiah terus bergerak menguat ke posisi Rp 14.326 pada pukul 09.45 WIB. Sementara mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi.

Penguatan terhadap dolar AS, antara lain terjadi pada dolar Taiwan 0,02%, won Korea Selatan 0,24%, peso Filipina 0,19%, yuan Cina 0,02% dan bath Thailand 0,07%. Sementara rupee India melemah 0,48% bersama ringgit Malaysia 0,02%, yen Jepang 0,03%, dolar Hong Kong 0,01% dan dolar Singapura 0,1%.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan, rupiah masih berpeluang menguat sekalipun bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) mengumumkan percepatan tapering off. Rupiah hari ini diramal menguat di rentang Rp 14.300-14.280 per dolar AS, dengan potensi pelemahan di kisaran Rp 14.350 per dolar AS.

"Keputusan bank sentral AS yang akan mempercepat tapering off mulai Januari tahun depan sudah diekspektasi pelaku pasar, sehingga pasar tidak bereaksi berlebihan," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Kamis (16/12).

Menurutnya sentimen positif dari pengumuman The Fed ini sudah terlihat dari indeks saham Asia yang menghijau pagi ini. Kinerja ini menyusul indeks saham utama AS dan Eropa yang ditutup menguat tadi malam. "Nilai tukar rupiah berpotensi rebound terhadap dollar AS pada perdagangan hari ini seiring dengan membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko," kata Ariston.

Indeks saham Nikeei 225 Jepang menguat 1,65% pagi ini, bersama dengan Shanghai SE Composite 0,15%, Kospi Korea Selatan 0,28%, Taiex Taiwan 0,53% dan Strait Times SIngapura 0,12%. Sementara Hang Seng Hong Kong melemah 0,99% bersama Nifty 50 India 0,6%.

Indeks utama AS juga ditutup menguat tadi malam. Dow Jones Industrial Average 1,06%, S&P 500 menguat 1,63% dan Nasdaq SE Composite sebesar 2,15%. Indeks utama Eropa yang juga menguat yakni Dax Jerman 0,15% dan CAC 40 Perancis 0,47%. Sedangkan FTSE 100 Inggris melemah 0,66%.

The Fed mengumumkan akan mempercepat tapering off atau pengurangan pembelian asetnya mulai bulan depan. The Fed mulai mengurangi pembelian asetnya senilai US$ 15 miliar sejak bulan lalu. Dengan rencana percepatan tapering ini, maka pengurangan aset digandakan menjadi US$ 30 miliar.

Jika tidak ada perubahan, The Fed diperkirakan mengakhiri pembelian asetnya pada Maret 2022, atau tiga bulan lebih cepat dari rencana awal pada Juni 2022. Setelah itu, bank sentral akan mulai menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun depan.

Meski pasar merespon positif langkah percepatan tapering off, Ariston juga mengatakan adanya potensi kenaikan bunga acuan pada tahun depan dapat menahan penguatan nilai tukar.

Berbeda dengan Ariston, analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto mengatakan pengumuman percepatan tapering off The Fed akan memberi sentimen negatif ke rupiah. Oleh karena itu, ia meramal nilai tukar rupiah bergerak melemah ke arah Rp 14.368 per dolar AS, dengan potensi penguatan di kisaran Rp 14.295 per dolar AS.

Meski begitu, pelemahan nilai tukar mungkin tidak akan terlalu dalam di tengah penantian pasar terhadap pertemuan Bank Indonesia. BI diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga rendah untuk mendukung pemulihan. Namun, pasar menantikan sikap BI terkait langkah The Fed yang makin agresif.

"Kemungkinan BI akan menyikapi juga sinyal dari The Fed ini, di samping keputusan BI tetap mempertahankan suku bunga yang diharap akan menopang pergerakan rupiah hari ini," kata Rully kepada Katadata.co.id.

Selain itu, sentimen positif dari dalam negeri juga masih terpengaruh rilis data neraca dagang November yang masih berhasil mencetak surplus. Badan Pusat Statistik mencatat, neraca perdagangan pada November 2021 surplus US$ 3,51 miliar, turun setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Oktober sebesar US$ 5,74 miliar.

Penurunan pada nilai surplus neraca dagang November terutama karena nilai impor tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor. Nilai ekspor bulan November sebesar US$ 22,84 miliar, naik 3,69% dari bulan sebelumnya. Sementara itu, nilai impor Indonesia tercatat US$ 19,33 miliar, naik 18,62% dari bulan sebelumnya.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait