Eropa Perketat Moneter, Rupiah Berpotensi Menguat ke 14.330 per US$

Rupiah berpotensi menguat hari ini meski dibuka melemah tipis.
Image title
14 April 2022, 10:15
rupiah, rupiah hari ini, rupiah menguat
ANTARA FOTO/Reno Esnir/aww.
Ilustrasi. Analis memperkirakan rupiah akan bergerak stabil di rentang Rp 14.347 hingga Rp 14.385 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis dua poin ke level Rp 14.365 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot pagi ini. Namun demikian, rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp 14.330 seiring fokus pasar yang kini beralih dari sentimen pengetatan moneter The Fed ke pengetatan moneter negara maju lainnya di luar Amerika.

Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik menguat dari posisi pembukaan pagi ini ke Rp 14.351 pada pukul 10.00 WIB, menguat dibandingkan penutupan kemarin Rp 14.363 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini. Dolar Singapura menguat 0,62% disusul Won Korea Selatan 0,26% disusul yen Jepang 0,21%,  dolar Taiwan 0,14%, ringgit Malaysia 0,09%, yuan Cina 0,06% dan baht Thailand 0,02%. Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,24% bersama rupee India 0,06% dan dolar Hong Kong 0,01%.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah bisa menguat hari ini berkat adanya sentimen pengetatan moneter di beberapa negara G7 di luar Amerika. Rupiah bisa menguat ke kisaran Rp 14.330, dengan potensi pelemahan di Rp 14.370 per dolar AS.

Advertisement

"Ekspektasi kebijakan pengetatan moneter bank sentral negara lainnya di luar AS ini mendorong penguatan nilai tukar negara lainnya terhadap dollar AS," kata Ariston, Kamis (14/4).

Dolar AS terlihat melemah terhadap mata uang utama dunia lainnya setelah bank sentral Kanada menaikkan suku bunga acuan nya sebesar 50 bps, di luar ekspektasi pasar. Selain itu, pasar juga kini menunggu hasil rapat kebijakan moneter bank sentral Eropa (ECB) yang diperkirakan juga akan mengumumkan kebijakan pengetatan demi meredam inflasi.

Ariston mengatakan, pengumuman kebijakan moneter sejumlah negara maju ini mengalihkan perhatian pasar yang selama beberapa pekan terakhir fokus ke bank sentral Amerika Serikat. The Fed diperkirakan akan mengumumkan kenaikan bunga acuan hingga 50 bps pada pertemuan bulan depan. Selain itu, bank sentral utama dunia itu juga tampaknya akan mengumumkan dimulainya penjualan aset yang mereka pegang.

Selain karena sentimen pengetatan moneter di beberapa negara maju, penguatan rupiah akan ditopang membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko pagi ini. Sejumlah indeks saham Asia bergerak menguat pagi ini, mengikuti penguatan indeks saham Amerika semalam.

"Ini mengindikasikan sentimen pasar cukup positif terhadap aset berisiko, serta asing juga terlihat aktif masuk ke pasar saham Indonesia," kata Ariston.

Indeks saham utama Asia mayoritas menguat pagi ini. Nikkei 225 menguat 1,05%, bersama Shanghai SE Composite Cina 0,7%, Hang Seng Hong Kong 0,37%, Taiex Taiwan 0,18%, Strait Times STI Singapura 0,4%. Indeks saham Amerika ditutup menguat semalam, Dow Jones Industrial Average 1,01% , S&P 500 menguat 1,12% dan Nasdaq Composite 2,03%.

Di sisi lain, risiko inflasi yang masih tinggi mungkin membatasi penguatan rupiah hari ini. Invasi Rusia yang masih berlangsung dan pembicaraan damai yang menemui kebuntuan masih akan memicu kenaikan harga komoditi yang menjadi penyebab kenaikan inflasi.

Analis Bank Mandiri Rully A Wisnubroto memperkirakan rupiah masih akan bergerak stabil di rentang Rp 14.347 hingga Rp 14.385 per dolar AS. Pergerakan rupiah yang masih stabil di tengah pergerakan indeks dolar AS yang cenderung terkoreksi dan kembali berada di bawah level 100.

Dari eksternal, pasar akan mencermati pertemuan bank sentral Eropa hari ini. "Sementara itu dari dalam negeri pasar akan menunggu publikasi data neraca perdagangan besok," kata Rully kepada Katadata.co.id

 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait