Kenaikan Harga Pangan Dunia Segera Kerek Harga Barang di Dalam Negeri

Abdul Azis Said
2 Juni 2022, 13:49
inflasi, harga pangan, harga pangan global, harga tepung, harga domestik
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.
Ilustrasi. Perang Rusia dan Ukraina menjadi pemicu utama kenaikan harga energi dan pangan global beberapa bulan terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) memperingatkan kenaikan harga komoditas pangan global terutama tepung terigu dan kedelai akan mulai terasa pada kenaikan sejumlah harga-harga di dalam negeri. Kenaikan harga pangan global ini tidak lepas dari efek perang Rusia dan Ukraina.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, transmisi dari kenaikan harga dua komoditas pangan tersebut ke dalam negeri sebetulnya sudah mulai terasa, tetapi baru sampai di level pedagang besar atau grosir. Sementara di tingkat konsumen, kenaikan harga tepung terigu hanya memberi andil inflasi 0,0008% sedangkan produk turunan kedelai yakni tempe dengan andil 0,052%.

"Tapi ini perlu diwaspadai kalau harga internasionalnya terus meningkat terutama untuk barang-barang impor pangan karena akan berdampak pada harga-harga terutama di industri turunannya," kata Margo dalam konferensi pers secara daring, Kamis (2/6).

Transmisi dari kenaikan harga di tingkat internasional tersebut sudah mulai dirasakan di level grosir. Hal ini tercermin dari inflasi harga perdagangan besar (IHPB) pada Mei sebesar 0,33%, dengan inflasi di sektor industri memberi andil paling besar sebesar 0,31%.

Jika dibedah lebih lanjut, sejumlah komoditas di sektor industri yang mendorong inflasi yakni tepung terigu dan mie kering instan. kedua komoditas tersebut memberi andil inflasi masing-masing 0,1%. Menurut Margo, Inflasi yang terjadi di dua komponen tersebut sebagai respons dari kenaikan harga di tingkat global. 

"Perkembangan harga global sudah mulai merambat ke kita, tapi masih pada level harga perdagangan besar, belum sepenuhnya masuk ke harga konsumen," kata Margo.

Margo mengatakan, perang menjadi pemicu utama kenaikan harga energi dan pangan global beberapa bulan terakhir. Perang di Ukraina telah mengganggu rantai pasok perdagangan global sehingga meningkatkan tekanan kenaikan harga-harga di sejumlah negara. 

Menurutnya, transmisi dari kenaikan harga energi global ke dalam negeri terlihat dari keputusan pemerintah yang mulai menaikkan harga Pertamax pada awal April lalu. Sementara untuk transmisinya dari kenaikan harga pangan terutama impor baru terasa di tingkat perdagangan besar.

Sejumlah harga pangan dunia melanjutkan kenaikan sampai dengan bulan April. Harga gandum naik 1,85% dibandingkan bulan sebelumnya, harga jagung naik 3,77% dan kedelai 0,03%. Sebaliknya, harga energi menunjukkan penurunan secara bulanan, harga minyak mentah terkoreksi 7,99% pada April, CPO turun 5,3% dan gas alam turun 24,03%.

Kenaikan harga-harga ini akan menimbulkan tekanan berupa kenaikan inflasi global. Dalam laporannya bulan April, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi ke atas perkiraan inflasinya baik untuk negara maju maupun berkembang. Di negara maju, inflasi diramal bisa mencapai 5,7% pada tahun ini, dari perkiraan sebelum perang inflasi sebesar 3,9%. Di negara berkembang, perkiraan inflasi dinaikkan dari 5,9% menjadi 8,7%.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Advertisement

Artikel Terkait