IHSG Diramal Naik Berkat Rilis Kinerja Emiten, Ini Saham yang Menarik

IHSG diperkirakan naik pada perdagangan hari ini usai anjlok 3,53% pada sepanjang pekan lalu.
Agustiyanti
4 Juli 2022, 07:04
ihsg, ihsg hari ini, resesi
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.
Ilustrasi. IHSG anjlok 3,53% pada pekan lalu seiring kekhawatiran kenaikan inflasi dan suku bunga AS yang dapat memicu resesi global.

Indeks harga saham gabungan diperkirakan bergerak naik setelah anjlok 3,53% pada pekan lalu. IHSG akan terdongkrak menyongsong laporan kinerja emiten sepanjang semester pertama tahun ini yang dieprkirakan meningkat seiring berjalannya pemulihan ekonomi. 

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas Wiliam Surya Wijaya menjelaskan, data inflasi, jumlah kedatangan wisman, dan potensi membaiknya kinerja emiten pada paruh pertama tahun ini akan memberikan sentimen positif terhadap pergerakan IHSG. Ia memperkirakan, indeks akan bergerak dalam rentang 6.711 - 6.921.

"Kinerja emiten diperkirakan meningkat seiring mengingat mulai kembali berjalannya sektor riil tentunya dapat memberikan sentimen positif terhadap pola gerak IHSG sepanjang semester kedua tahun ini. Hari ini, IHSG berpotensi naik," ujar Wiliam dalam risetnya. 

Ia merekomendasikan investor untuk memantau saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Sumarecon Agung Tbk (SMRA), PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON). 

Advertisement

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang juga memperkirakan, indeks akan kembali bangkit setelah anjlok hampir 4% pada pekan lalu. Investor asing pada pekan lalu keluar dari pasar saham domestik mencapai Rp 3,89 triliun. 

"Pada awal pekan ini, IHSG berpeluang rebound seiring kombinasi naiknya indeks Dow Jones 1,5% dan naiknya harga beberapa komoditas," ujar Edwin. 

Edwin menjelaskan, harga minyak naik 2,55%, batu bara 1,64%, emas 0,31%. Selain kenaikan harga komoditas dan indeks Dow Jones, bangkitnya indeks juga ditopang oleh turunnya yield obligas AS tenor 10 tahun di bawah 2,9% dan obligas Indonesia tenor 10 tahun di bawah level 7.36%.

"Di lain pihak, sangat perlu diwaspadai akan adanya potensi terjadinya aksi profit taking atas saham berbasis beberapa komoditasn nikel, timah, dan CPO," kata dia.

Ketiga komoditas tersebut turun di tengah melemahnya kurs rupiah mendekati Rp 15 ribu per dolar AS. Edwin memperkirakan indeks akan bergerak dalam rentang 6.733 - 6.898.

Adapun Edwin merekomendasikan investor untuk membeli saham UNVR, TKLM, PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA). Di sisi lain, ia merekomendasikan investor menjual saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Timah Tbk (TINS). 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait