Impor Melejit 38%, Surplus Neraca Perdagangan Anjlok Jadi US$ 440 Juta

Abdul Azis Said
15 Juni 2023, 12:20
neraca perdagangan, eskpor, impor
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/rwa.
Ilustrasi. Neraca perdagangan Januari-Mei 2023 masih mencatatkan surplus US$ 17 miliar.

Badan Pusat Statistik mencatat, surplus neraca perdagangan pada Mei 2023 anjlok menjadi US$ 440 juta dibandingkan bulan sebelumnya US$ 3,94 miliar maupun Mei 2022 sebesar US$ 2,9 miliar. Surplus neraca perdagangan yang turun sejalan dengan kenaikan impor yang mencapai 38,65% dibandingkan bulan sebelumnya, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan ekspor sebesar 12,6%.

"Neraca perdagangan hingga Mei 2023 sudah surplus selama 37 bulan secara berturut-turut sejak Mei 2020. Namun, surplus pada Mei 2023 lebih rendah dibandinkan bulan sebelumnya serta Mei 2022," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Moh. Edy Mahmud dalam konferensi pers, Kamis (15/6). 

Ia menjelaskan, neraca perdagangan nonkomoditas sebenarnya masih mencatatkan surplus mencapai US$ 2,26 miliar. Ini terutama disumbangkan oleh surplus perdagangan dari komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, besi dan baja. Sedangkan neraca migas defisit mencapai US$ 1,8 miliar karena defisit perdagangan pada minyak mentah dan hasil minyak. 

Surplus neraca perdagangan yang anjlok juga disebabkan defisit perdagangan yang besar dengan Cina yang mencapai US$ 1,17 miliar. Defisit ini terutama disumbangkan oleh komoditas mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik.

Defisit neraca perdagangan yang cukup besar juga terjadi dengan Australia dan Thailand masing-masing US$ 575 juta dan US$ 451 juta. Komoditas yang menyumbangkan defisit dengan Australia adalah bahan bakar mineral, serealia dan bijih logam terak abu. Sementara itu, penyebab defisit perdagangan Indonesia dengan Thailand adalah gula dan kembang gula, plastik dan barang dari plastik, serta kendaraan dan bagiannya.

Meski demikian, Indonesia masih mencatatkan surplus besar dengan Amerika Serikat yang mencapai US$ 1,06 miliar, Filipina US$ 839 juta, dan India US$ 818 juta. Surplus dengan AS disebabkan oleh komoditas mesin, perlengkapan elektrik, serta bagiannya, pakaian aksesoris bukan rajutan, serta pakaian aksesoris rajutan. Sedangkan dengan Filipina, surplus disumbangkan oleh komoditas bahan bakar mineral, kendaran dan bagiannya, serta bijih logam, terak, dan abu.

Anjloknya surplus perdagangan secara keseluruhan terutama disebabkan lonjakan pada impor meski ekspor masih naik. Impor pada bulan lalu melonjak 38,65% secara bulanan atau 14,35% secara tahunan. Impor migas naik 6,09% secara bulanan menjadi US$ 3,14 miliar, sedangkan impor nonmigas naik 46,42% menjadi US$ 18,14 miliar. 

Berdasarkan penggunaan bahan bakunya, kenaikan impor bulanan terutama terjadi pada kelompok barang modal yang mencapai 66,03% menjadi US$ 15,31 miliar, disusul bahan baku penolong sebesar 31,89% menjadi US$ 3,9 miliar, dan konsumsi 47,96% menjadi US$ 2,03 miliar.

Adapun secara kumulatif, impor sepanjang Januari-Mei 2023 mencapai US$ 91,58 miliar atau turun 3,78% dari periode yang sama tahun lalu. Kinerja impor secara kumulatif masih lebih rendah dibandingkan ekspor Januari-Mei 2022 yang mencapai US$ 108,6 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan secara keseluruhan tahun masih mencatatkan surplus US$ 17 miliar. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...