Banjir Stimulus di Tengah Ancaman Resesi Akibat Virus Corona

Wabah virus corona berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi mencapai US$ 4.962 triliun dan meningkatkan kekhawatiran terjadi resesi global.
Image title
9 Maret 2020, 09:05
virus corona, resesi ekonomi, resesi global, kerugian ekonomi akibat virus corona
123RF.com/alphaspirit
Ilustrasi. IMF menyebut pertumbuhan ekonomi global pada 2020 akan berada di bawah tahun lalu sebesar 2,9%.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menjelaskan dampak virus corona terhadap perekonomian tak dapat diselesaikan dengan stimulus moneter. Hal ini berbeda dengan kondisi krisis keuangan 2008 yang permasalahannya terletak pada sistem keuangan.

"Ini bukan masalah ekonomi tapi virus, penanganannya berbeda dengan 2008. Kekhawatirannya permintaan akan turun sekali karena itu butuh dukungan untuk mendorongnya lewat stimulus fiskal," ujar dia.

Menurut David, pasar tengah menanti langkah stimulus fiskal dari pemerintah Amerika Serikat. Saat ini, AS baru saja menyepakati anggaran US$ 8,3 miliar. Namun, anggaran tersebut tampaknya terbatas untuk penanganan langsung mengatasi virus corona.

Sejumlah negara saat ini telah menggelontorkan stimulus fiskal. Tiongkok yang merupakan asal penyebaran virus akan memotong pajak untuk membantu perusahaan, termasuk mengurangi atau membebaskan pungutan nilai tambah untuk perusahaan yang menyediakan barang-barang penting atau logistik.

Pemerintah Provinsi juga disuntik dengan banyak dana. Hong Kong yang juga merupakan bagian dari Tiongkok bahkan memberikan bantuan dana tunai kepada seluruh penduduknya sebesar 10 ribu dolar Hong Kong atau sekitar Rp 17,9 juta untuk mendorong kembali konsumsi.

"Indonesia saya rasa cukup bagus stimulus yang diberikan BI dan pemerintah antara lain lewat tambahan dana bantuan langsung tunai, karena konsumsi penting sekali," kata dia.

 (Baca: Sri Mulyani Godok Aneka Keringanan Pajak untuk Usaha Terdampak Corona)

Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya mengumumkan bakal memberikan stimulus paket II guna menangkal dampak virus corona. Stimulus tersebut akan diarahkan untuk mendorong produksi dan konsumsi rumah tangga yang rawan lesu akibat wabah tersebut.

"Artinya fiskal memainkan peran untuk mencegah dampak negatif corona semaksimal mungkin dari sisi produksi dan konsumsi," kata dia.

Salah satu opsi stimulus tersebut antara lain menunda pajak sejumlah perusahaan. Namun, ia belum memberikan penjelasan lebih detail terkait opsi lainnya untuk mendorong konsumsi.

Ancaman Stagflation

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menjelaskan pemberian stimulus harus dilakukan oleh pemerintah dan bank sentral untuk mengatispasi dampak virus corona. Dengan stimulus, ada harapan permintaan akan naik dan perlambatan ekonomi dapat diatasi.

"Jika pemerintah atau bank sentral tidak berbuat apa-apa, maka stagflation akan terjadi," tulis Chatib dalam laman akun Facebook pribadinya.

Stagflation adalah kondisi saat terjadi peningkatan inflasi di tengah stagnansi permintaan. Hal ini berpotensi terjadi jika terjadi gangguan pada pasokan global akibat wabah yang berkepanjangan.

Jika wabah ini berlangsung sekitar 3-4 bulan, maka stok bahan baku masih cukup dan tak akan disrupsi terhadap pasokan. Namun jika berlangsung dalam jangka waktu panjang, maka rantai pasokan global akan terganggu karena disurpsi di Tiongkok akan membuat berbagai persediaan bahan baku, penolong, dan barang modal yang dibutuhkan berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia akan terdampak.

(Baca: Video: Peluang Ekonomi di Balik Wabah Corona)

Selain itu, melemahnya Tiongkok juga berarti mengurangi permintaan, termasuk ke Indonesia. "Saya kira apa yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia sudah tepat dalam hal kebijakan fiskal dan moneter," kata dia.

Adapun mendorong permintaan ditengah terganggunya pasokan, menurut dia, akan mengakibatkan kenaikan harga. Oleh karena itu perlu ada kebijakan melawan siklus untuk mendorong suplai.

"Paling utama adalah mencari sumber bahan baku, komponen dari negara lain yang belum terjangkit atau relatif lebih mampu menyediakan pasokan dibanding Tiongkok," kata dia.

Idealnya, menurut Chatib, pasokan dari Tiongkok diganti dari lokal. Ini sekaligus akan meningkatkan produksi dalam negeri melalui subistitusi impor. "Saya bisa membayangkan bahwa produk komponen atau barang modal yang tadinya tak mampu bersaing dengan Tiongkok sekarang bisa survive," ungkap dia.

Oleh karena itu, ia menekankan penting dari sekarang perusahaan untuk mencari sumber rantai pasokan baru demi mengantisipasi jika wabah berlangsung lama. Pemerintah juga harus memastikan stok bahan pangan aman.

Wabah virus corona hingga kini telah menjangkit lebih dari 98 ribu orang dan menewaskan lebih dari 330 ribu orang.  Namun, laporan WHO menunjukkan jumlah kasus pada pekan keenam penyebaran virus ini menurun, seperti terlihat dalam databoks di bawah ini. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait