Cerita Erick Thohir Sulitnya RI Dapat Vaksin Covid-19 di Awal Pandemi

RI sempat kesulitan mendapatkan vaksin Covid-19 sebelum mendapatkan pasokan dari Tiongkok dan Inggris
Image title
17 September 2021, 18:58
vaksin, erick thohir, covid-19
ANTARA/HO-Kementerian BUMN
Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) melayani langsung konsumen di apotek Kimia Farma wilayah Depok, Jawa Barat, Sabtu (4/9/2021).

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menceritakan sulitnya mencari vaksin pada awal pandemi Covid-19. Menurutnya, saat itu tidak ada produsen yang merespons permintaan Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia belum bisa mendistribusikan vaksin buatan lokal lantaran vaksin Merah Putih memerlukan uji coba selama 1,5 tahun. "Kami coba kontak beberapa perusahaan di luar negeri. Memang agak sedih awal-awalnya tidak direspons," kata Erick dalam acara Wealth Wisdom 2021, Jumat (17/9).

 

Untuk itu, pemerintah berupaya menjalin hubungan dengan Tiongkok pada Agustus 2020 untuk mendapatkan pasokan vaksin. Apalagi Indonesia mempunyai koneksi yang baik dengan Negeri Panda tersebut. "Kami coba sama Bu Menteri Luar Negeri untuk melihat pendekatan ke sana," ujar dia.

Ternyata permintaan pemerintah mendapatkan respons positif dari Tiongkok. Kedua negara pun menyepakati pengiriman vaksin Covid-19 sebanyak 260 juta dosis.

Tak hanya Tiongkok, pemerintah kemudian berupaya melobi Inggris untuk mendapatkan vaksin. Akhirnya, AstraZeneca memberikan komitmen untuk mengirimkan vasin sebanyak 50-100 juta.

Usai berkomitmen dengan kedua negara itu, Indonesia menerima berbagai tawaran dari negara lain. "Ini penting bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa besar, G20 loh," kata Erick.

Namun untuk memastikan keamanan stok, Indonesia tidak ingin hanya bergantung pada kerja sama bilateral. Untuk itu, pemerintah bertolak ke Swiss untuk bertemu dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pemerintah pun menyatakan terbuka dengan skema multilateral dengan aliansi global untuk vaksin dan imunisasi (GAVI) Covax Facility. Akhirnya, Indonesia dapat mengantongi stok vaksin Covid-19 hingga 400 juta lebih.

Erick mengatakan upaya tersebut tidak terlepas dari minat masyarakat Indonesia. Sedangkan capaian vaksinasi ini mengantar Indonesia menduduki peringkat 6 tertinggi di dunia.

Seiring dengan hal itu, angka positif Covid-19 di Indonesia turun 58% dalam dua pekan. "Kita masuk negara top di dunia yang bisa menangani dengan baik masalah Covid-19," ujar dia.

 

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait