Pasien Covid-19 yang Dirawat di Wisma Atlet Berkurang Jadi 190 Orang

Rasio keterisian tempat tidur pasien Covid-19 di RS Wisma Atlet juga terus mengecil hingga 2,4%
Ameidyo Daud Nasution
11 November 2021, 19:59
covid-19, wisma atlet, corona
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Tenaga kesehatan berjalan memasuki kawasan RSDC Wisma Atlet, Jakarta, Rabu (2/6/2021).

Beban Rumah Sakit Darurat Khusus Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta terus berkurang. Pada Kamis (11/11), pasien yang dirawat di RS tersebut sebanyak 190 orang.

Jumlah ini berkurang lima orang dari pelaporan pada Rabu (10/11). “Jumlah semula 195 orang, ada pengurangan,” kata Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I TNI Kolonel Marinir Aris Mudian, Kamis (11/11) dikutip dari Antara.

 

Sejak awal beroperasi Maret 2020 sampai hari ini, rumah sakit ini telah menerima 128.961 orang pasien. Dari angka tersebut, 127.132 telah sembuh dan 1.043 dirujuk ke RS lain. Adapun sebanyak 596 orang meninggal dunia.

Sedangkan jumlah pasien rawat inap di Rumah Sakit Khusus Infeksi Pulau Galang sebanyak 105 orang hari ini. Angka ini bertambah tiga orang dari kemarin. “Sebanyak 66 merupakan pria dan 39 perempuan,” katanya. Total, RSKI Pulau Galang telah menerima 17.316 pasien Covid-19.

Dengan jumlah pasien positif hari ini, maka kapasitas kasur rumah sakit yang terpakai sebesar 2,4%. Sedangkan sisa bed yang tak terpakai mencapai 7.704 atau 97,5%. Adapun mayoritas pasien dirawat di Tower 5 yakni 156 orang, sisanya dirawat di Tower 6.

Rendahnya keterisian Wisma Atlet ini seiring penularan corona yang terus menurun. Sedangkan Kasus Covid-19 di Indonesia bertambah 435 orang pada Kamis (11/11).

Provinsi DKI Jakarta menjadi penyumbang terbanyak pasien hari ini yakni 107 orang. Berikutnya adalah Jawa Tengah yang melaporkan 73 kasus baru. Secara total, Jawa dan Bali menyumbang 329 atau 75,6% kasus pada hari ini.

Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia  (WHO) memasukkan Indonesia sebagai kategori transmisi komunitas rendah (CT1) pada akhir Oktober lalu Namun, ahli mengingatkan masih ada potensi fenomena gunung es dari kasus Covid-19 yang tak terdeteksi di masyarakat.

"Harus hati-hati karena fenomena gunung es tidak sebesar kemarin, tapi masih ada," kata epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman kepada katadata.co.id, Jumat (5/11).

 

 

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait