Australia Kebut Berikan Vaksin Booster untuk Tangkal Penularan Omicron

Australia mempersingkat waktu tunggu penduduknya untuk mendapatkan vaksin booster. Ilmuwan AS juga menganggap dosis tambahan ini efektif menghadapi Covid-19
Ameidyo Daud Nasution
13 Desember 2021, 12:06
vaksin booster, australia, omicron
ANTARA FOTO/REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/hp/cf
Dado Ruvic/Illustration Botol kecil dengan label vaksin penyakit virus korona (COVID-19) Pfizer-BioNTech, AstraZeneca, dan Moderna terlihat dalam foto ilustrasi yang diambil Jumat (19/3/2021).

Australia mempercepat pemberian dosis tambahan alias booster vaksin untuk mencegah penularan Covid-19 varian Omicron. Mereka akan mempersingkat waktu tunggu bagi penduduk untuk mendapatkan tambahan vaksin.

Otoritas Negeri Kangguru sebelumnya menawarkan booster kepada penduduk 18 tahun ke atas usai enam bulan mendapatkan vaksin kedua. Namun, adanya Omicron membuat mereka memangkas waktu tunggu jadi lima bulan.

“Dosis penguat akan memastikan perlindungan lebih kuat dan tahan lama serta membantu mencegah penyebaran virus,” kata Menteri Keuangan Australia Greg Hunt pada Minggu (12/12) dikutip dari Reuters.

Hunt berkaca pada data dari Israel yang menunjukkan booster mampu mengurangi infeksi pada usia tua, penyakit parah, hingga kematian pada lansia. Sedangkan Australia akan menggunakan vaksin Moderna dan Pfizer untuk booster vaksinasi.

Australia adalah salah satu negara dengan cakupan vaksinasi Covid-19 paling luas. Saat ini sudah ada 90% penduduk di atas 16 tahun yang mendapatkan suntikan kekebalan corona.

Meski demikian, kasus positif di negara tersebut juga tengah menanjak lagi. Mereka melaporkan lonjakan 1.542 pasien baru pada Minggu (12/12).

Adapun lmuwan  asal Amerika Serikat (AS) Anthony Fauci mengatakan, tiga dosis vaksin merupakan perawatan optimal untuk menghadapi Covid-19. Saat ini AS memang masih melakukan evaluasi menyeluruh pemberian booster vaksin tersebut.

"Jika ingin terlindungi secara optimal harus benar-benar mendapatkan booster,” kata  Fauci yang merupakanKepala Penasihat Medis Presiden AS Joe Biden pada ABC, Minggu (13/12).

 Saat ini, pemerintah AS tetap mendefinisikan vaksin lengkap dengan dua dosis vaksin Pfizer/BioNTech, Moderna, dan satu dosis suntikan Johnson & Johnson. Namun, pejabat kesehatan akan terus mengevaluasi ketentuan tersebut.

Fauci juga menilai masih perlu waktu untuk mengetahui apakah dosis booster perlu dilakukan secara tahunan. Ia berharap, satu dosis tambahan cukup untuk memberikan perlindungan yang lebih besar.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, merekomendasikan orang dengan gangguan kekebalan serta penerima vaksin Covid-19 dengan virus yang dimatikan untuk menerima booster.

Adapun, vaksin dengan platform virus dimatikan ialah vaksin Sinovac dan Sinopharm asal Tiongkok. Rekomendasi tersebut muncul setelah Kelompok Ahli Penasihat Strategis pada Imunisasi (SAGE) mengadakan pertemuan untuk mengevaluasi vaksin booster Covid-19.

Ketua SAGE, Alejandro Cravioto mengatakan vaksin memberikan perlindungan yang kuat terhadap penyakit parah, setidaknya selama enam bulan. Namun, data menunjukkan kekebalan berkurang terhadap orang dewasa yang lebih tua dengan penyakit parah, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan.

"Kami mendukung pemerataan distribusi (vaksin) dan penggunaan dosis ketiga hanya pada mereka yang bermasalah kesehatan atau orang yang menerima vaksin inaktif," katanya.

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait