Bertemu Presiden Prancis, Jokowi Bahas Konflik Ukraina-Rusia

Jokowi mengatakan waktu yang dimiliki untuk menyelesaikan konflik Ukraina dan Rusia tak panjang.
Ameidyo Daud Nasution
28 Juni 2022, 11:02
jokowi, prancis, ukraina
ANTARA FOTO/Biro Pers Setpres/Laily Rachev/Handout/sgd/rwa.
Presiden Joko Widodo (kelima kanan) bersama Kanselir Jerman Olaf Scholz (keenam kanan), Presiden Amerika Serikat Joe Biden (keempat kanan) dan sejumlah pemimpin negara melakukan sesi foto saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 ke-48 di Schloss Elmau, Pegunungan Alpen Bavaria, Jerman (Senin (27/6/2022).

Presiden Joko Widodo menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Jerman, Senin (28/6). Salah satu yang menjadi pembahasan adalah situasi Ukraina.

Jokowi sempat memberikan apresiasi atas usaha Macron untuk mewujudkan perdamaian di Ukraina. Apalagi situasi konflik saat ini sangat kompleks.

"Namun kita perlu upayakan penyelesaian secara damai. Jika perang berlanjut, krisis pangan yang terjadi akan semakin memburuk," kata Jokowi dalam keterangan Sekretariat Kabinet, Selasa (28/6).

 Selain itu Macron juga menyampaikan dukungan atas Presidensi G20 Indonesia. Prancis akan mendukung presidensi RI agar sukses dan menghasilkan kerja sama nyata.

Advertisement

Jokowi juga menyampaikan upaya memperkuat kerja sama bilateral dengan Prancis. Beberapa di antaranya di bidang pertahanan serta industri strategis.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Retno P. Marsudi  mengatakan isu Ukraina menjadi topik yang dibahas Jokowi pada hampir semua pertemuan bilateral di G7. Selain bertemu Macron, Presiden juga bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi hingga PM Inggris Boris Johnson.

Jokowi menekankan bahwa waktu untuk menyelesaikan masalah ini sangat sempit. Ini lantaran perang mengakibatkan gangguan rantai pasok pangan yang berdampak besar di negara-negara berkembang.

"Kalau kita tidak bersatu, maka yang merasakan dampaknya adalah ratusan juta atau bahkan miliaran penduduk di negara berkembang," kata Retno.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait