Jokowi: Seluruh Pemimpin Negara Besar Pusing Lihat Kondisi Saat Ini
Presiden Joko Widodo mengatakan kondisi dunia saat ini sedang sulit. Bahkan, seluruh pemimpin negara-negara G20 saat ini sedang pusing karena situasi global.
Menurutnya, tidak ada negara yang dapat memprediksi pergerakan ekonomi pada 2023. Apalagi banyak hal yang tidak bisa diprediksi saat ini.
"Saya simpulkan semuanya pusing, saya melihat kerutan wajahnya bertambah, rambutnya tambah putih," kata Jokowi di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2022, Rabu (30/11).
Presiden mengatakan tidak ada yang dapat memprediksi pergerakan harga komoditas pada 2023. Jokowi mencontohkan dengan proyeksi pergerakan harga minyak bumi dunia.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate atau WTI Amerika Serikat dihargai US$ 73,6 per barel pada perdagangan Selasa (29/11). Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Desember 2021.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent dibuka susut 3% menjadi US$ 80,61 per barel atau terendah sejak 4 Januari 2022. Namun demikian, kedua harga minyak dunia tersebut sempat menembus harga US$ 100 per barel pada tahun ini.
"Saya tanya produsen-produsen minyak yang gede-gede, tidak bisa memprediksi. Harga minyak lebih menyulitkan lagi menghitungnya seperti apa," kata Jokowi.
Di sisi lain, Presiden Jokowi mengatakan perekonomian Cina dapat melemah pada 2023 karena kebijakan Nol Covid-19. Secara sederhana, kebijakan tersebut membuat pemerintah menetapkan lockdown pada beberapa daerah di Negeri Panda.
Selain itu, Jokowi menyampaikan perekonomian di Amerika Serikat dapat melemah karena peningkatan suku bunga acuan Amerika Serikat atau Fed Fund Rate (FFR). Bank Indonesia meramalkan FFR akan naik menjadi 5% pada Desember 2022 dari posisi saat ini sebesar 3,75% - 4%.
"Resesinya kapan? Tinggal ditunggu saja. Ekspor kita ke Amerika Serikat, Cina, dan Uni Eropa gede banget, oleh sebab itu hati-hati," kata Jokowi.
