Jokowi Kembali Ingat Sulitnya Tangani Covid-19: Debat Berhari-hari

Ameidyo Daud Nasution
20 Maret 2023, 14:20
jokowi, covid-19, pandemi
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww.
Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (30/1/2023).

Presiden Joko Widodo kembali menceritakan sulitnya masa-masa awal penanganan pandemi Covid-19. Hal ini karena tidak ada satu negara pun yang berpengalaman menghadapi wabah sebesar itu.

Salah satu kesulitan yang dihadapinya adalah perlunya pemerintah memberlakukan penguncian wilayah alias lockdown atau tidak. Jokowi sendiri mengakui saat itu dirinya tak mengetahui solusi apa yang paling tepat.

"Ingat, kita pernah debat berhari-hari soal lockdown," kata Jokowi saat pemberian Penghargaan Penanganan Covid-19 di Jakarta (20/3).

Saat itu, Presiden memilih untuk mendengarkan semua masukan dan kritik dari seluruh pihak. Ia juga menelepon pemimpin negara-negara yang sudah lebih dulu mendeteksi Covid-19.

"Yang dimintai pendapat, ternyata juga baru belajar," kata Jokowi.

Oleh sebab itu, ia harus mengambil kebijakan yang tidak mudah. Bahkan Jokowi sempat merasakan suasana mencekam saat awal-awal Covid-19 melanda Indonesia.

"Situasi besok, bulan depan tidak bisa dihitung. Bagaimana kondisi ekonomi juga tidak bisa diprediksi," katanya.

Meski demikian, pandemi saat ini sudah mereda. Oleh sebab itu, Jokowi memuji seluruh komponen bangsa yang sudah bekerja keras untuk menekan penularan Covid-19.

"Dirjen WHO juga menyampaikan penanganan Covid-19 dan cakupan vaksinasi Indonesia juga masuk yang terbaik. Ini bukan kita yang ngomong," ujar mantan Wali Kota Solo itu.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga meminta seluruh pihak mengulang kerja keras saat Covid-19 untuk menangani permasalahan lainnya. Beberapa isu yang perlu ditangani antara lain penularan tuberkulosis, stunting, hingga menurunkan angka kemiskinan.

"Jangan hanya berhenti di urusan Covid-19," ujarnya.

Sebelumnya, Jokowi mengungkapkan alasan utama dirinya menolak lockdown saat pandemi Covid-19. Ia khawatir Indonesia akan dilanda kerusuhan jika memberlakukan penguncian aktivitas berskala massal.

Jokowi mengatakan saat itu 80% anggota kabinet mendorong adanya lockdown demi memutus penularan Covid-19. Selain itu,  legislator dan partai politik menekan pemerintah untuk melakukan lockdown.

 "Semua ditutup, negara tidak bisa memberikan bantuan kepada rakyat, apa yang terjadi? Riot (kerusuhan), itu yang kami hitung," ujar Jokowi dalam Rapat Koordinasi Nasional Transisi Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional 2023, Kamis (26/1).


News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Advertisement

Artikel Terkait