Akibat Kemarau, Setengah Luas Sawah di Jambi Alami Kerusakan hingga Gagal Panen
Kemarau berkepanjangan telah menyebabkan sejumlah daerah mengalami gagal panen. Di Jambi, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (TPHP) merilis sekitar setengah (49%) sawah di Jambi mengalami kerusakan ringan hingga berat, bahkan gagal panen.
Berdasarkan laporan yang masuk, dari 7.659,73 ha luas padi sawah pada masa tanam periode ini, 1.851,18 ha mengalami rusak ringan, 1.313,18 ha mengalami rusak sedang, 559,47 ha rusak berat, dan 53 ha lainnya gagal panen atau puso.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD-BPTPH) Dinas TPHP Provinsi Jambi Darmawansyah menjelaskan, peristiwa gagal panen itu disebabkan dampak kekeringan akibat perubahan iklim (kemarau) dan diperparah fenomena El Nino yang melanda wilayah Jambi.
"Yang terbesar berada Kabupaten Batang Hari, di Kecamatan Bathin XXIV ada 11,5 hektare," kata Darmawansyah, dikutip dari Antara, Kamis (10/9).
Berdasarkan sebaran wilayah, kabupaten/kota, untuk Kota Sungai Penuh, dari 464 ha luas tanam, 60 ha mengalami rusak ringan, dan dua ha rusak sedang.
Di Kabupaten Tebo, dari luas tanam 458,75 ha, 167,75 ha di antaranya mengalami rusak ringan, 115,5 ha rusak sedang, 57, 50 ha rusak berat, dan 16,75 ha mengalami puso.
Berikutnya, Kabupaten Sarolangun, dari 986,75 ha luas tanam, 274,75 ha mengalami rusak ringan, 195,75 ha rusak sedang, 70 hektare rusak berat, dan satu ha mengalami puso.
Sementara itu, di Kabupaten Batang Hari, dari 3.039,30 ha luas tanam, 418,50 ha mengalami rusak ringan, 679,90 ha rusak sedang, dan 99,40 ha rusak berat, serta 23,25 ha dinyatakan puso.
Bergeser ke Kabupaten Muaro Jambi, di wilayah itu, dari 1.375, 27 ha tanaman padi sawah yang ada, 518,30 ha tercatat mengalami rusak ringan, 154,50 ha rusak sedang, 317,54 ha rusak berat, dan 10 ha mengalami puso.
Selanjutnya di Kota Jambi, dari 141,25 ha luas tanam, 75,36 ha mengalami rusak ringan, 18,53 ha rusak sedang, dan empat ha rusak berat, dua ha mengalami puso.
Lalu, untuk Kabupaten Kerinci, dari 533,50 ha luas tanam, 70,50 ha mengalami rusak ringan, dan 24 ha rusak sedang.
Kemudian di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dari 92 ha luas tanam, 30 ha mengalami rusak ringan, 51 ha rusak sedang, dan 11 ha mengalami rusak berat.
Beralih ke Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dari 49,50 ha luas tanam yang ada, enam ha dinyatakan rusak ringan, sementara untuk rusak ringan, berat hingga puso belum ditemukan di daerah tersebut.
Untuk Kabupaten Merangin 528,44 ha luas tanam, 230,02 ha mengalami rusak ringan, 72 ha rusak sedang.
Menyikapi persoalan itu, Darmawansyah memastikan Dinas TPHP setempat akan mengambil langkah penanganan dengan menyediakan pompanisasi untuk daerah terdampak.
Namun untuk daerah yang mengalami kekeringan ekstrem, pemerintah tidak bisa mengambil langkah tersebut karena terkendala oleh pasokan air.
"Ini angka laporan se-Provinsi Jambi sampai dengan akhir Agustus 2026, kondisi ini sudah kami laporkan kepada Kepala Dinas DTPHP Provinsi Jambi dan melalui Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian sudah berupaya melakukan penanganan," katanya pula.