Setelah terpukul oleh rendahnya harga dalam dua tahun terakhir, para produsen minyak kini melakukan lindung nilai. Praktik hedging ini ditempuh untuk menangkal risiko kembali anjloknya harga minyak tahun depan.

“Perusahaan yang bertahan adalah mereka yang sudah melakukan hedging, dan mereka sangat bersyukur,” kata Stephen Schork, Presiden lembaga konsultasi Schork, seperti dilansir Bloomberg, Senin (18/7). (Baca: Beda dengan Harga Minyak Dunia, ICP Juni Turun Jadi US$ 44,5)

Lindung nilai menjadi hal yang penting untuk menjaga kelangsungan dana perusahaan minyak. Tanpa melakukan praktik itu, sebanyak 85 perusahaan minyak dan gas di Amerika Utara mengalami kebangkrutan sejak awal 2015, berdasarkan catatan firma hukum Haynes and Boone.

Karena itulah, Laredo Petroleum Inc. kini memilih melakukan lindung nilai harga minyak. Pekan lalu, perusahaan ini melakukan lindung nilai atas lebih dari 2 juta barel minyak untuk kontrak tahun 2017.

Sementara itu, beberapa perusahaan pengeboran mengambil kesempatan dari kenaikan harga minyak saat ini untuk masuk ke pasar modal untuk meraih dana publik. Dana hasil penjualan saham tersebut digunakan untuk membayar utang atau mengakuisisi aset migas.

Pada kenyataannya, harga minyak kembali melemah bulan Juli ini, sebesar 21 persen. Oleh karena itu, perusahaan pengeboran minyak melakukan berbagai cara untuk meningkatkan pemasukan, termasuk menjual saham dan surat utang untuk menambah lindung nilai.

Sejauh ini, perusahaan-perusahaan migas Amerika Serikat telah meraih lebih dari US$ 16 miliar atau sekitar Rp 209,52 triliun dari aksi korporasi tersebut. “Mereka berupaya menghasilkan dana tunai untuk bertahan,” kata John Kilduff dari Again Capital LLC.

(Baca: Minyak Mentah Dunia Kembali Tembus US$ 50)

Para perusahaan pengeboran ini memanfaatkan momentum sekarang karena memprediksi harga minyak akan kembali jatuh hingga 29 persen tahun ini. Harga minyak mentah memang kembali melemah lebih 10 persen setelah dari level tertingginya tahun ini pada awal Juni lalu. Kondisi itu sempat memantik kecemasan adanya penurunan harga minyak pada semester kedua ini.

Jika kondisi harga minyak tahun ini menyerupai kondisi dalam dua tahun terakhir, maka perusahaan yang sudah melakukan lindung nilai dapat merasa aman. Sebagai gambaran, pada semester II tahun lalu, harga minyak turun 38 persen.

Schork juga menyebut, harga minyak mentah kembali turun ke level US$ 40-an per barel karena kelebihan pasokan. “Permintaan memang tinggi, namun pasokan yang ada jauh lebih tinggi,” katanya. Saat ini, harga minyak jenis West Texas Intermediate naik 20 sen menjadi US$ 46,80 per barel dan diperdagangkan pada level US$ 46,07 per barel. (Baca: Bulan Depan, Pemerintah Pakai Formula Baru Harga Minyak)

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.