Danantara Kaji Teknologi Proyek Hilirisasi Batu Bara, Segera Groundbreaking
Daya Anagata Nusantara atau Danantara masih mengkaji detail teknologi yang akan dipakai di proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Meski begitu, instansi memperkirakan proyek ini segera groundbreaking atau peletakan batu pertama dalam satu bulan ke depan.
“Dalam satu sampai dua bulan,” kata Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria di kantornya, Jakarta, Jumat (6/2).
Menurut dia, penentuan teknologi ini penting sebab akan menentukan seberapa kompetitif output atau hasil akhir proyek terhadap penyerapan pasar.
Danantara telah melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase I dari 18 proyek yang sedang dicanangkan. Keenam proyek yang dimaksud di antaranya:
- Pengembangan smelter aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat dengan nilai investasi US$ 2,4 miliar atau Rp 40 triliun
- Smelter grade Alumina berbasis bauksit di Mempawah, Kalimantan Barat dengan nilai investasi US$ 890 juta atau hampir Rp 15 triliun
- Pembangunan pabrik bioavtur di Cilacap, Jawa Tengah dengan nilai investasi US$ 1,1 miliar atau Rp 18,4 triliun
- Pabrik bioetanol di Cilacap, Jawa Tengah dengan nilai investasi US$ 80 juta atau Rp 1,3 triliun
- Fasilitas pengolahan kelapa di Morowali, Sulawesi Tengah dengan nilai investasi US$ 100 juta atau Rp 1,6 triliun
- Proyek unggas terintegrasi, nilai investasi mencapai US$ 1 miliar atau Rp 20 triliun
Sedangkan proyek DME yang dikerjakan oleh PT Bukit Asam belum diumumkan. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pelaksanaan groundbreaking proyek hilirisasi akan dilaksanakan bertahap, sehingga total 18 proyek akan dibangun hingga Maret 2026.
Di internal PTBA, proyek hilirisasi batu bara menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan. Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto mengatakan, hilirisasi energi dan utilitas merupakan salah satu dari empat pilar bisnis perusahaan hingga 2029, termasuk pengembangan DME.
Turino menjelaskan, ada beberapa proyek yang akan digarap PTBA untuk mendukung hilirisasi, di antaranya proyek coal to artificial graphite dan anode sheet untuk ekosistem kendaraan listrik, serta coal to asam humat untuk kebutuhan pupuk.
Pada fase validasi komersial, perseroan mengembangkan coal to DME, coal to synthetic natural gas (SNG), coal to methanol, dan coal to ammonia.
Turino mengakui, tantangan utama seluruh proyek hilirisasi yakni kebutuhan belanja modal awal yang besar. Sebagai perbandingan, subsidi LPG nasional mencapai Rp 80 triliun – Rp 90 triliun per tahun, sedangkan pembangunan satu pabrik DME atau methanol membutuhkan investasi sekitar Rp 50 triliun. Perseroan perlu membangun beberapa pabrik agar proyek hilirisasi batu bara ini berjalan dengan baik.