Harga Minyak Turun Usai Trump Desak Negara Lain Amankan Selat Hormuz

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa.
Kapal Floating Storage Offloading (FSO) Arco Ardjuna Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) melakukan proses lifting minyak ke kapal tanker di perairan utara Subang, Laut Jawa, Jawa Barat, Senin (3/4/2023). FSO Arco Ardjuna yang berkapasitas 1 juta barel minyak tersebut memiliki tugas penting sebagai fasilitas pe­nampung hasil produksi minyak mentah lapangan PHE ONWJ yang selanjutnya dikirim ke oil tanker untuk dibawa ke kilang minyak.
16/3/2026, 10.14 WIB

Harga minyak acuan dunia turun pada Senin (16/3). Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta negara-negara lain untuk membantu mengamankan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas global.

Minyak mentah Brent turun 24 sen, atau 0,23%, menjadi US$ 102,90 per barel setelah ditutup naik US$ 2,68 pada Jumat. Sementara itu minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 97,64 per barel, setelah naik hampir US$ 3 pada sesi sebelumnya.

Kedua kontrak tersebut telah melonjak lebih dari 40% bulan ini ke level tertinggi sejak 2022 setelah serangan AS-Israel terhadap Iran. Perang ini memaksa pemerintah Iran menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz. Hal tersebut menghambat seperlima pasokan minyak global dalam gangguan terbesar sepanjang sejarah.

Trump sedang melakukan pembicaraan dengan beberapa negara mengenai pengamanan jalur tersebut. Di saat yang bersamaan, AS juga berkomunikasi dengan Iran meski negara super power ini ragu akan kesiapan Teheran untuk bernegosiasi serius agar perang ini bisa dihentikan.

Serangan di Pulau Kharg, Fujairah

Selama akhir pekan, Trump mengancam akan melakukan serangan lanjutan terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg. Rencana tersebut memicu respon keras dari pemerintah Iran, sebab Pulau Kharg berperan atas 90% ekspor minyak Iran.

Setelah serangan pertama di Pulau Kharg, Iran lalu menyerang terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab (UAE). “Operasi pemuatan minyak di Fujairah telah dilanjutkan kembali,” kata empat sumber dikutip dari Reuters, Senin (16/3).

Akan tetapi rinciannya belum jelas operasi tersebut telah kembali normal. Fujairah yang terletak di luar Selat Hormuz merupakan pintu keluar bagi produksi 1 juta barel minyak mentah Murban yang merupakan andalan UEA. Volume produksi Fujairah setara dengan 1% dari permintaan global.

“AS sedang mempertimbangkan opsi darat berisiko tinggi, termasuk menyerang fasilitas nuklir untuk uranium Iran, merebut pusat minyak Pulau Kharg, dan menduduki wilayah selatan Iran untuk melindungi Selat Hormuz,” kata analis SEB Erik Meyersson.

Menurutnya, seluruh rencana ini mengimplikasikan eskalasi yang signifikan dan memerlukan toleransi terhadap risiko yang jauh lebih tinggi.

Cadangan Minyak 

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan 400 juta barel cadangan minyak mentah akan segera mengalir ke pasar. Pelepasan cadangan terbesar ini dilakukan untuk mengatasi lonjakan harga yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah.

IEA menyebut cadangan dari negara-negara Asia dan Oseania akan segera dilepaskan, sedangkan cadangan dari Eropa dan Amerika akan tersedia pada akhir Maret.

“Seiring dengan konflik yang memasuki minggu ketiga, ketidakpastian mengenai penyelesaiannya telah membuat pasar global semakin khawatir akan spiral eskalasi yang tak terkendali,” kata Meyersson dari SEB.

Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pada hari Minggu bahwa ia memperkirakan perang AS dengan Iran akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan. Hal ini mengisyaratkan pasokan minyak pulih dan biaya energi menurun setelahnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani