Konflik Amerika Iran semakin memanas setelah Trump mengancam serangan berikutnya ke Pulau Kharg. Iran mengutuk keras, terutama karena Pulau Kharg adalah pusat transaksi minyak dunia.
Ide Iran untuk menjadikan transaksi muatan dalam yuan sebagai syarat kapal melintas Selat Hormuz sebetulnya sejalan dengan ambisi Cina memperluas mata uangnya dalam perdagangan global.
Sejumlah perusahaan pelayaran dan pedagang energi dilaporkan menangguhkan pengiriman minyak dan gas melalui selat tersebut sejak awal konflik, sehingga lalu lintas tanker menurun tajam.
Trump berharap Cina, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, serta negara lain yang terdampak pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz, untuk turut mengirim kapal militer ke kawasan itu.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Pandjaitan, beranggapan Pemerintah Iran tak akan mampu menutup akses Selat Hormuz dalam waktu lama karena ketergantungan Negeri Persia itu pada ekspor minyak.
Kementerian Luar Negeri RI melakukan pendekatan diplomatik intensif dengan pemerintah Iran untuk membebaskan dua Kapal Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz dan memastikan keselamatan awaknya.
Rupiah melemah ke Rp 16.919 per dolar AS dipicu kekhawatiran penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang bisa melambungkan harga minyak dunia hingga US$ 200 per barel.
Pejabat militer AS, serta ekonom IMF dan JP Morgan memperkirakan harga minyak dunia bisa mencapai US$ 200 per barel imbas penutupan Selat Hormuz. AS mulai waspada.
Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz menjadi alarm bagi ketahanan energi Indonesia yang masih bergantung impor minyak, mendesak perlunya strategi transisi yang aman.
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, juga menyatakan pangkalan militer AS di Timur Tengah harus ditutup dan pangkalan-pangkalan itu akan diserang.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pasca serangan udara AS-Israel picu lonjakan harga minyak mentah dan uji ketahanan cadangan minyak Indonesia yang hanya untuk 20 hari.