Harga Minyak Melonjak Lagi Usai Trump Sebut AS akan Terus Serang Iran
Harga minyak naik hampir 7% pada Kamis (2/4) usai Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan terus menyerang Iran tanpa menyebut batas waktu untuk mengakhirinya. Hal ini memicu kekhawatiran investor soal gangguan pasokan yang masih akan terjadi.
Harga minyak mentah Brent naik US$ 6,84, atau 6,8%, menjadi US$ 108 per barel pada pukul 0643 GMT. Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS naik US$ 6,40, atau 6,4%, menjadi US$ 106,52 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah penurunan lebih dari US$ 1 pada kedua patokan tersebut sebelum pidato Trump. "Kami akan menyelesaikan pekerjaan ini, dan kita akan menyelesaikannya dengan sangat cepat. Kita sudah sangat dekat," kata Trump.
Ia menambahkan bahwa militer AS hampir mencapai tujuannya dalam konflik yang akan berakhir dalam dua hingga tiga minggu, tetapi tidak memberikan rincian spesifik.
"Pasar bereaksi terhadap fakta bahwa tidak ada penyebutan yang jelas tentang gencatan senjata atau keterlibatan diplomatik, yang ditampilkan dalam pidato tersebut," kata Priyanka Sachdeva, analis pasar senior di Phillip Nova.
Ia menilai, harga minyak dapat mencapai titik tertinggi baru karena pasar memperhitungk memperhitungkan potensi gangguan pasokan, terutama jika ketegangan meningkat atau risiko maritim bertambah.
Ancaman terhadap lalu lintas maritim telah meningkat seiring dengan intensifikasi konflik regional. Pada Rabu (1/4), sebuah kapal tanker minyak yang disewa oleh QatarEnergy dihantam oleh rudal jelajah Iran di perairan Qatar.
Kepala Badan Energi Internasional juga memperingatkan bahwa gangguan pasokan akan mulai memengaruhi ekonomi Eropa pada bulan April. Benua itu sebelumnya terlindungi oleh kargo yang dikontrak sebelum dimulainya perang.
"Tanpa menyebutkan rencana gencatan senjata yang solid atau jalan keluar yang nyata, pasar dibiarkan terus mencerna pernyataan pemerintah," kata Claudio Galimberti, kepala ekonom Rystad Energy