Penjualan Minyak Arab Saudi ke Cina Merosot 50% Imbas Perang AS-Iran
Volume penjualan minyak mentah (crude) Arab Saudi ke Cina berkurang 50% bulan depan, seiring terjadinya perang di Timur Tengah yang menganggu arus pasokan dan mendorong kenaikan harga.
Para trader mengatakan Arab Saudi diperkirakan akan mengirimkan 20 juta barel minyak ke Cina pada Mei nanti. Jumlah ini menurun 50% dari volume April yang mencapai 40 juta barel.
Pemangkasan penjualan ini terjadi setelah Saudi Aramco menaikkan harga jual resmi (official selling price/OSP) minyak mentahnya ke level tertinggi sepanjang sejarah, menyusul perang Timur Tengah yang secara efektif menutup Selat Hormuz dan menghambat distribusi arus energi global.
Selat Hormuz merupakan jalur vital pengiriman migas dari Teluk Persia ke pasar global. Rute ini memuat seperlima pasokan minyak dunia setiap hari sebelum terjadinya perang. Akses selat tersebut memang sudah dibatasi Iran sejak konflik meletus di Timur Tengah.
Arab Saudi memang memiliki jalur ekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, namun jalur ini tidak dapat menyalurkan seluruh pasokan yang sebelumnya melalui Teluk Persia.
Pelabuhan Yanbu memiliki kapasitas ekspor sebanyak 5 juta barel per hari, lebih kecil dibandingkan kemampuan tampung pelabuhan di Teluk Persia yang mencapai 7,2 juta barel per hari sebelum perang terjadi.
Besarnya kapasitas ekspor Teluk Persia didukung oleh posisi sebagian besar fasilitas energi Arab Saudi yang berada di kawasan tersebut. Para pembeli Asia hanya ditawari pembelian minyak jenis Arab Light melalui Pelabuhan Yanbu.
Perang di Timur Tengah kini memasuki bulan kedua, namun belum menunjukkan tanda mereda. Pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan pada akhir pekan lalu.
Dalam eskalasi terbaru, Presiden Donald Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz, sehingga seluruh lalu lintas maritim keluar-masuk pelabuhan Iran akan terhenti mulai pukul 10.00 waktu Washington pada Senin.