Harga Minyak Brent Sentuh US$ 111 Setelah Trump Ancam Iran
Harga minyak acuan dunia terus naik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menekan Iran untuk mencapai kesepakatan demi mengakhiri perang dan membuka akses Selat Hormuz.
Harga minyak Brent naik 2,1% menjadi US$ 111,57 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate naik 2,6% menjadi US$ 108,17 per barel.
“Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya bergerak, cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. Waktu sangat penting,” kata Trump melalui media sosialnya, dikutip dari Bloomberg, Senin (18/5).
Harga minyak telah naik lebih dari 50% sejak AS dan Israel pertama kali menyerang Iran pada akhir Februari. Kenaikan ini didukung oleh berkurangnya arus pengiriman migas melalui Selat Hormuz yang membatasi pasokan dari produsen di Teluk Persia.
Morgan Stanley mengatakan kondisi pasar saat ini berada dalam fase perlombaan melawan waktu, karena faktor-faktor yang selama ini menahan kenaikan harga akibat perang dapat mulai tertekan apabila jalur perairan vital tersebut tetap ditutup hingga Juni.
“Pasar telah melihat banyak berita utama mengenai kemungkinan solusi, tetapi belum ada mekanisme yang kredibel yang benar-benar menghilangkan risiko pasokan dari Hormuz,” kata kepala strategi investasi di Saxo Markets di Singapura, Charu Chanana.
Serangan terhadap Fasilitas Energi UEA Menekan Pasokan Minyak Global
Tekanan tambahan terhadap pasokan muncul setelah pemerintahan Trump membiarkan pengecualian untuk penjualan minyak mentah Rusia berakhir.
Selain itu fasilitas energi di Teluk Persia menjadi sasaran, dengan serangan drone memicu kebakaran di fasilitas nuklir Uni Emirat Arab dan menyoroti rapuhnya gencatan senjata.
Laporan dari media semi-resmi Iran menunjukkan kedua pihak dalam konflik masih sangat berjauhan. Trump pada Sabtu bertemu dengan Wakil Presiden JD Vance, utusan Gedung Putih Steve Witkoff, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Direktur CIA John Ratcliffe untuk membahas perang tersebut. Ia diperkirakan akan kembali bertemu dengan tim keamanan nasionalnya pada Selasa.
“Kami ingin membuat kesepakatan, namun mereka belum berada di posisi yang kami inginkan. Iran harus berada di posisi itu atau akan terkena pukulan berat, dan mereka tidak menginginkan itu,” ujar Trump.
Seorang anggota kabinet keamanan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Zev Elkin, mengatakan negaranya siap melanjutkan serangan terhadap Iran apabila Trump memutuskan untuk melakukannya. “Kami memiliki target-target yang ingin kami serang,” kata Elkin kepada Radio Kan.
