Isu Energi Ramai Dibahas di Media Sosial, Mayoritas Sentimen Negatif

ANTARA FOTO/Abdan Syakura/foc.
Warga menggunakan aplikasi media sosial TikTok di Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat (31/1/2025).
23/4/2026, 16.38 WIB

Perbincangan sektor energi di media sosial didominasi sentimen negatif. Pembicaraan ini mencuat saat terjadinya perang Timur Tengah sejak akhir Februari 2026.

Berdasarkan laporan terbaru Databoks "Social Media Listening Report 2026"yang dikutip Rabu (23/4), terdapat 7.428 percakapan mengenai energi di X. Dari jumlah tersebut, sebanyak 61,4% merupakan sentimen negatif dalam rentang waktu 28 Februari hingga 20 April 2026.

Menurut analisis, percakapan negatif di X didominasi oleh kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak global yang dikaitkan dengan tekanan inflasi dan pelemahan nilai tukar. Di sisi lain, muncul tudingan terhadap aktor internasional sebagai pemicu krisis energi, yang memperkuat narasi kecemasan terhadap dampak ekonomi yang lebih luas.

Konflik ini memperkuat kondisi ketidakpastian global, terutama karena kawasan Timur Tengah merupakan pusat produksi dan distribusi energi dunia. Perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) ini telah menghambat tersalurnya pasokan energi dari Teluk Persia ke pasar global, imbas penutupan Selat Hormuz. 

Rute tersebut merupakan jalur pengiriman bagi seperlima pasokan minyak dunia setiap harinya. Perang ini memicu kekhawatiran terhadap gangguan supply energi global.

Sentimen Negatif di Instagram dan TikTok

Tak hanya di X, sentimen negatif juga mendominasi setengah percakapan terkait energi di media sosial lainnya. Di Instagram jumlah sentimen negatif soal energi mencapai 58,6%, sementara perbincangan positif hanya 21,8% dan netral sebanyak 19,6%.

Percakapan negatif disana menyoroti kecaman terhadap harga BBM domestik yang tetap tinggi meskipun harga minyak dunia menurun, serta menganggap kondisi tersebut sebagai anomali kebijakan. Di sisi lain, publik juga mengkhawatirkan semakin ketatnya pasokan energi global, termasuk potensi gangguan distribusi di kawasan Asia Tenggara yang berdampak pada stabilitas energi.

Adapun di Tiktok, besaran persentase percakapan negatif terkait energi memimpin 53,4%. Sentimen buruk di Tiktok ini menampilkan sindiran dan kritik terhadap kenaikan harga BBM yang dianggap membebani masyarakat, serta menyoroti tekanan terhadap daya beli. Di sisi lain, publik juga mengeluhkan dampak terhadap industri dan ekonomi, termasuk perlambatan aktivitas sektor manufaktur akibat tekanan energi global.

Sebagian Netizen Bangga Harga BBM Tak Naik

Meski didominasi sentimen negatif, namun dalam percakapan di aplikasi yang dahulunya bernama twitter juga diwarnai percakapan netral 27,8% dan positif 10,9%.

Berdasarkan hasil analisis, percakapan positif menampilkan optimisme dan kebanggaan terhadap stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia di tengah tekanan global. Publik juga mendukung kebijakan pemerintah dan figur publik dalam mengelola dinamika energi, serta mengangkat narasi inspiratif tentang upaya penghematan energi di tingkat masyarakat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani