RI Teken Kerja Bangun Koridor Nikel dengan Filipina
Pemerintah Indonesia dan Filipina Teken kerja sama pengembangan nikel. Hal ini dilakukan di sela-sela rangkaian konferensi tingkat tinggi (KTT) ASEAN ke 48 di Cebu, Filipina.
Kerja sama ini tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kedua negara akan membangun koridor nikel (nickel corridor).
“Sebuah platform terstruktur yang menghubungkan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” kata Airlangga dalam siaran pers, Jumat (8/5).
Nota Kesepahaman ini mencakup ruang lingkup kerja sama yang bersifat strategis dan berorientasi jangka panjang. Pertama meliputi pertukaran informasi dalam rangka stabilisasi perdagangan nikel regional dan global.
Kedua, pengembangan bersama teknologi hilirisasi nikel serta pemanfaatan nilai tambah dari produk sampingan industri pengolahan. Ketiga mencakup pengembangan sumber daya manusia bersama untuk mendukung ekosistem industri nikel yang berkelanjutan.
Dia menyebut Indonesia saat ini memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang masif, dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai US$ 9,73 miliar di 2025. Proyeksi investasi hingga US$ 47,36 miliar dan penyerapan 180.600 tenaga kerja ditargetkan tercapai pada 2030.
Smelter-smelter di Indonesia ini membutuhkan pasokan bijih yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) tepat yang dapat dipenuhi dari bijih nikel Filipina melalui proses blending.
“Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita,” ujarnya.
Menurutnya, hal ini sejalan dengan arahan KTT AECC ke-27 untuk memperkuat rantai pasok kritis di kawasan ASEAN.
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina menguasai 73,6% produksi nikel global pada 2025. Dari jumlah tersebut Indonesia menyumbang sekitar 66,7% atau 2,6 juta ton dan Filipina sebanyak 6,9% atau 270 ribu ton pasokan.
Adapun dari sisi cadangan, Indonesia memiliki 44,5% cadangan nikel dunia atau sebesar 62 juta ton, sementara Filipina memiliki 3,4% atau 4,8 juta ton.
Selain produksi, Airlangga juga menyebut hubungan dagang kedua negara juga semakin erat. Sepanjang 2025, total nilai ekspor Indonesia ke Filipina mencapai US$ 10,22 miliar atau setara dengan 8,4% dari total nilai impor Filipina. Jumlah ini menjadikan Indonesia sebagai mitra dagang terbesar ketiga bagi Filipina setelah Cina dan Jepang.
Secara keseluruhan, Filipina juga merupakan mitra dagang strategis bagi Indonesia, terutama untuk komoditas energi dan produk otomotif.