Harga Minyak Melonjak Lebih dari 5% Usai AS Kembali Serang Iran
Harga minyak acuan dunia kembali naik setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke sejumlah titik di Iran selama dua hari terakhir. Serangan tersebut meningkatkan risiko terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
Harga minyak brent naik 1% menjadi US$ 78,77 per barel pada pukul 08.41 waktu Singapura, setelah melonjak lebih dari 5% pada Rabu (8/7). Sementara itu minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,9% menjadi US$ 74,20 per barel.
Komando Pusat Militer AS (Central Command) menyatakan pasukannya melancarkan serangan tambahan untuk melemahkan kemampuan Iran yang mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Di saat yang bersamaan, Teheran menyebut akan meluncurkan operasi balasan besar-besaran terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump juga mengatakan kesepakatan damai sementara dengan Iran telah berakhir. Ia juga membuka kemungkinan memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Trump turut memperingatkan harga minyak mentah masih bisa naik lebih tinggi. Dia mengatakan AS juga bisa mengambil alih pusat ekspor minyak di Pulau Kharg melalui serangan.
Trump menyebut serangan AS ini diartikan sebagai pembalasan atas serangan kapal yang dilakukan Iran. "Jika itu terjadi lagi, situasinya akan menjadi jauh lebih buruk,” tulis Trump dalam media sosial, dikutip dari Bloomberg, Kamis (9/7).
Akibat serangan ini, pasar energi global kembali terguncang. Harga kontrak berjangka minyak kini berhasil memangkas sebagian kerugian yang terjadi pada kuartal kedua. Status Selat Hormuz yang merupakan jalur penghubung negara-negara produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global kembali menjadi pusat ketegangan. AS telah melancarkan serangan menyusul rentetan gangguan terhadap kapal-kapal komersial.
"Jika Selat Hormuz kembali ditutup, harga minyak kemungkinan akan naik lagi sekitar US$ 10 per barel. Namun jika aliran minyak tetap berjalan, kenaikannya kemungkinan tidak akan jauh lebih tinggi dari level saat ini,” kata analis TP ICAP, Scott Shelton.
Setelah perang pecah pada Februari akibat serangan AS dan Israel, Teheran sempat memaksa penutupan hampir total Selat Hormuz. Hal ini membuat para pemasok minyak di Timur Tengah menghentikan produksi di sejumlah ladang karena tangki penyimpanan telah mencapai kapasitas maksimum.
Perang baru ini akan menguji kemampuan para pemasok untuk mempertahankan aktivitas pelayaran kapal di Selat Hormuz.
Co-Portfolio Manager Catalyst Energy Infrastructure Fund Henry Hoffman mengatakan Selat Hormuz sebenarnya belum pernah benar-benar kembali beroperasi secara normal. Menurutnya dengan kondisi, membuka peluang terjadinya penghentian produksi lebih lanjut.
"Jika eskalasi meningkat lebih besar, kerusakan terhadap infrastruktur energi kawasan bisa jauh lebih signifikan, dengan dampak yang berlangsung jauh lebih lama dibanding lonjakan harga awal,” ujarnya.
Awal pekan ini, Departemen Keuangan AS juga mencabut pengecualian sanksi (sanctions waiver) yang sebelumnya memungkinkan Teheran menjual minyak, sehingga membalikkan salah satu poin penting dalam kesepakatan sementara. Padahal pengecualian sanksi ini memungkinkan jutaan barel minyak mentah Iran mengalir ke pasar dalam beberapa pekan terakhir, namun kini nasib pasokan tersebut menjadi tidak menentu.
Seiring konflik yang berkepanjangan, persediaan minyak juga mulai berada di bawah tekanan. Meskipun stok minyak mentah komersial AS naik hampir 3 juta barel pada pekan lalu, penurunan 6,2 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis AS (Strategic Petroleum Reserve/SPR) menyebabkan total persediaan minyak secara keseluruhan tetap turun lebih dari 3 juta barel, menurut data resmi. Selain itu, stok bahan bakar distilat turun 5 juta barel, sementara persediaan bensin mencapai level musiman terendah sejak 2012.